Purnama`s virtual notes

November 29, 2007

Dewa

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 12:16 am
Menyebut group band paling eksis di tanah air, maka Dewa 19 merupakan salah satu yang layak untuk dicatat. Group yang saya benci sekaligus favorit saya ini memang telah membuktikan kedigdayaanya sebagai group yang dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama (berdiri 1986) dengan karya-karya yang indah.

Ada dua alasan kenapa saya membenci sekaligus memfavoritkan group ini. Sifat arogan yang ditunjukkan oleh pentolan group ini dalam kasus-kasus yang menimpa group ini, maupun urusan pribadi sang komandan, sering kali menimbulkan sikap “reluctant” saya terhadap group ini. Namun di sisi lain, lagu-lagu yang dibawakan group ini mau nggak mau telah membuat group ini sebagai salah satu group terfavorit saya. Ada terlalu banyak untuk disebutkan lagu-lagu yang dibawakan group ini telah menjadi kenangan manis dalam perjalanan hidupku.

Dari beberapa album yang telah dirilis, setidaknya ada dua album yang telah menjadi kenangan manis. Album Cintailah Cinta sempat menjadi teman setia saya dalam kesendirian sekitar awal tahun 2002 sampai akhir tahun 2002, tahun pertama menjalani hidup sendirian di Melbourne. Album ini menurut saya merupakan album terindah dalam sejarah Dewa 19. Bagaimana tidak, hampir semua lagu yang ada dalam album tersebut sangat sempurna. Kombinasi yang apik antara lirik dan lagu (nada), sesuai dengan tema albumnya. Saat inipun, album tersebut kembali menjadi teman setia dalam menjalani aktivitas saya sehari-hari. Sejarah kembali terulang…….

Album Terbaik-Terbaik adalah album favorit saya kedua. Lagu-lagu dalam album ini selalu membangkitkan kenangan lama bersama teman-teman sekitar awal Juli sampai akhir Agustus 1996, ketika saya menjalani Kuliah Kerja Nyata di Kecamatan Kebasen Kabupaten Banyumas.

Memang masih banyak lagu-lagu Dewa 19 yang layak diacungi jempol, seperti: Kangen, Bayang-bayang (album Bayi); Aku Milikmu, Mahameru, Takkan ada cinta yang lain (album Format Masa Depan), Aku di sini untukmu, Kirana, Kamulah satu-satunya, Satu Sisi (album Pandawa Lima), Lagu Cinta, Dua sejoli, Risalah Hati, Roman Picisan, Separuh Nafas (album Bintang Lima); Hadapi dengan senyuman, Hidup ini indah, Satu (album Laskar cinta); Larut, Perasaanku tentang perasaanku padamu, Selimut hati (album Republik cinta).

November 26, 2007

Dazaifu

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 6:25 am
Saya masih ingat, beberapa tahun yang lalu ketika saya masih kecil, ayah sering mangajak saya dan saudara saya mengunjungi tempat-tempat wisata. Salah satu obyek wisata yang biasa kami kunjungi adalah tempat-tempat sejarah, seperti Museum Sonobudoyo, Museum Perjuangan, Kraton Yogyakarta, candi Prambanan, candi Borobudur, dan obyek wisata Yogya lain. Situs peninggalan Kerajaan Mataram di Kotagede adalah salah satu tempat bermain saya sehari-hari waktu itu. Mungkin dari kebiasaan yang diajarkan ayah saya itulah sampai saat ini saya suka mengunjungi tempat-tempat bersejarah, selain mungkn karena saya memang lahir dan besar di daerah yang penuh dengan nuansa sejarah, yaitu Kotagede.

Ketika sekarang di Jepang, obyek wisata budaya dan situs-situs sejarah Jepang adalah salah satu target kunjungan saya. Entah kenapa saya kurang tertarik mengunjungi kota besar seperti Tokyo dan Osaka. Mungkin karena, menurut saya, di manapun, kota besar selalu mempunyai tipikal yang sama: teknologi, kemacetan lalulintas, gedung tinggi, pusat perbelanjaan dan hiburan. Tokyo dan Osaka, menurut saya tidak jauh berbeda dengan Fukuoka, kota di mana saya tiap hari beraktifitas. Lain halnya dengan tempat wisata budaya dan sejarah. Tiap-tiap negara mempunyai ciri dan keistimewaan tersendiri dan tak bisa ditemui di tempat lain. Inilah yang menarik…..

Sabtu, 23 Nov kemarin saya berkesempatan berkunjung ke Dazaifu, suatu tempat wisata sejarah yang sangat terkenal di Kyushu. Dazaifu terletak di sebelah selatan kota Fukuoka, bisa ditempuh dengan kereta api express selama 22 menit atau dengan kereta api lokal selama 43 menit dari stasiun Tenjin ke Stasiun Dazaifu dengan biaya tiket hanya 780 yen two way trip.

Ada beberapa situs sejarah di Dazaifu yang lokasinya tersebar: reruntuhan bekas Dazaifu, Mizuki, Onojo, Candi Kanzeoniji, Candi Chikuzen Kokubunji dan Dazaifu Tenmangu Shrine. Karena waktu yang sangat terbatas, kunjungan kami hanya difokuskan di dua tempat, yaitu Dazaifu Tenmangu Shrine dan Kyushu National Museum. Dua tempat ini memang tempat objek wisata utama selain juga karena paling mudah dijangkau oleh yang datang ke lokasi dengan naik kereta api. Dazaifu Tenmangu Shrine didedikasikan untuk Michizane Sugawara yang terkenal sebagai “The God of Literature” yang pada tahun 901 diutus oleh kaisar di Kyoto untuk menjadi pejabat di Dazaifu. Dia meninggal dua tahun kemudian. Shrine ini dibangun di atas kuburannya pada tahun 1591.

Museum nasional Kyushu merupakan museum terbesar di Jepang terletak berdampingan dengan situs Dazaifu Tenmangu Shrine. Dibangun dengan arsitektur modern dan fasilitas canggih, museum ini memiliki koleksi yang menampilkan sejarah formasi budaya Jepang dari periode Paleolithic sampai sekitar tahun 1850an.

Setiap liburan, situs Dazaifu selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan local dan maupun mancanegara. Sepanjang perjalanan dari stasiun sampai situs, pengunjung disuguhi oleh took-toko yang menjual aneka makanan khas Jepang dan berbagai cenderamata.

Perpisahan

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 5:51 am
Perpisahan selalu membawa kesan yang tidak menyenangkan, terutama berpisah dengan orang-orang tercinta maupun berpisah dari kesenangan. Sering kali manusia tidak bisa menghargai suatu kebersamaan, hingga perpisahanlah yang mengingatkan begitu berharganya suatu kebersamaan.

Karena suatu kebetulan, akhirnya saya bisa berkomunikasi dengan sahabat lama saya sesama penerima beasiswa ADS untuk program master beberapa tahun yang lalu. Dia adalah seorang dosen Universitas Syah Kuala Banda Aceh yang sudah lama saya cari setelah diberitahu oleh kolega saya bahwa dia termasuk salah satu grantee beasiswa S3 ADS. Begitu berhasil kontak dia, saya teringat kasus tsunami Aceh 26 Desember 2004 yang lalu. Alangkah terkejut dan terharu hati ini mendengar kabar bahwa istri, dua orang anaknya yang berumur 4 and 2 tahun (yang lahir di Adelaide), ibu kandung, tiga saudara perempuan kandung (salah satunya hilang bersama anaknya yang berumur 1.5 tahun), tiga keluarga paman dan bibi, serta beberapa relative yang lain, turut menjadi korban dalam trgaedi itu. Sungguh suatu musibah yang sangat memilukan.

Beberapa hari yang lalu, seorang teman dan senior saya undang ke dormitory untuk sekedar bersantai, karena beliau baru datang ke Fukuoka. Dalam perbincangan, dengan sangat tegar dia bercerita bagaimana anak laki-lakinya nomor dua yang masih duduk di SMP mengalami musibah kecelakaan lalu lintas yang akhirnya merenggut jiwanya. Kejadian yang baru terjadi bulan puasa kemarin dia ceritakan dengan sangat tegar dan penuh keikhlasan, walaupun saya yakin ini adalah musibah yang sangat berat bagi seorang ayah.

Hari Jum’at 23 November 2007 lalu saya mendapat sms dari istri saya bahwa Bu Lik kami telah meninggal dunia. Keluarga kami kehilangan seorang adik dari bapak mertua saya. Innalillahi wainna ilaihi rojiun.

Meskipun tidak untuk selamanya, perpisahan yang kualami ini sedikit banyak telah mengingatkanku akan arti suatu kebersamaan. Perpisahan yang mampu membangkitkan harapan dan semangat untuk tetap berjuang menggapai kebersamaan………..

Living abroad

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 12:10 am
Pada sebuah posting blog pribadi, teman saya bercerita bagaimana orang China yang tidak menguasai bahasa Inggris bisa tinggal dan berbisnis di Kota New York, Amerika. Di sisi yang lain, ada seorang warga negara Kamerun yang begitu ketakutan dan sangat tidak percaya diri untuk datang ke kota itu karena merasa kurang fasih bahasa Inggrisnya. Dia melihat New York seperti kota menakutkan karena dia tidak bisa berbahasa Inggris.

Kalau menengok sedikit ke belakang, sejarah membuktikan bahwa bangsa China adalah bangsa penjelajah dan perantau. Bahkan dalam sebuah buku yang berjudul ”China menaklukkan dunia” (maaf kalau salah judulnya) disebutkan bahwa Christopher Columbus bukanlah orang pertama yang menemukan benua Amerika sekitar tahun 1490an. Tapi beberapa tahun sebelum itu bangsa China telah berhasil menjangkau benua tersebut dan membuat peta benua Amerika yang memang sengaja tidak dipublikasikan.

Dari sejarah China yang panjang itu, saat ini kita akan dapat menemui orang China di hampir seluruh belahan dunia. Di manapun orang China pergi, mereka akan mudah menemukan saudara-saudara dan komunitasnya sehingga tidak akan merasa terasing dan terkucil. Lain halnya dengan Kamerun. Kamerun hanyalah sebuah negara kecil di benua Afrika, dan tidak tercatat dalam sejarah dunia sebagai negara yang memiliki jiwa penjelajah dan perantau seperti China. Tidak banyak orang Kamerun yang bisa ditemukan di belahan dunia lain. Maka wajar bila orang China yang tidak bisa berbahasa Inggris bisa survive di Amerika karena ada komunitas ras yang mendukung, sementara orang Kamerun merasakan ketakutan datang ke Amerika karena kurang fasih berbahasa Inggris karena alasan sebaliknya.

Ketika saya di Melbourne beberapa tahun yang lalu, saya pun menemukan fenomena yang serupa dengan yang diceritakan teman saya ini. Saya sempat bertanya dalam hati, bagaimana mungkin orang Turki dan Lebanon yang tidak bisa berbahasa Inggris bisa tinggal di Australia. Jawabannya mungkin karena di sana banyak komunitas Lebanon dan Turki, dan mereka sangat solid.

Lain Amerika, lain Australia, lain pula Jepang. Di Kyushu University, khususnys di lab saya, ada seorang mahasiswa S3 China yang tidak bisa bahasa Jepang maupun Inggris. Menurut saya ini sangat konyol, karena tidak ada dosen yang bisa berbahasa China. Tiap kali konsultasi dengan dosen dia selalu didampingi temannya yang lebih senior yang fasih berbahasa Jepang. Pelajar dan warga negara Indonesia yang tinggal di sini pun banyak yang tidak bisa berbahasa Jepang. Tetapi, dengan dukungan teman-teman yang bisa berbahasa Jepang, serta kemampuan berbahasa Inggris yang cukup, membuat mereka (kami) tetap bisa bertahan hidup dan bisa melakukan aktivitas sehari-hari.

Jadi, ketakutan orang Kamerun yang akan datang ke New York mungkin akan sedikit berkurang apabila ada dukungan komunitas Kamerun di New York.

November 21, 2007

Enjoy your life

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 11:09 pm
Petang itu sebelum pulang sambil menunggu bus yang akan berangkat dari Kampus Ito jam 17.50 saya menyempatkan ngecek email, siapa tahu ada email yang penting. Teringat alamat email yang diberikan oleh teman dan senior saya yang barusan datang ke Fukuoka untuk melakukan riset di Kyushu University selama 3 bulan, saya mencoba mengirim email singkat menanyakan kabar beliau.

——————————————

Saya:

Assalamu alaikum Pak Arif, piye kabare, lagi sibuk di lab?
Purnama

Teman:

Hai pak Pur, gak sibuk2 amat aku kan dah doktor, saaatnya menikmati hidup. He he he, di Lab juga untuk bersenang, mancing-mancing kerjasama. santai lah. Nah pak Pur selamat berjuang semoga sukses.

Saya:

Ha..ha… wah saya jadi sadar bahwa saya belum saatnya menikmati hidup, tapi baru sebatas bertahan hidup he..he… Jadi terpacu nih untuk segera lulus biar bisa menikmati hidup…. Makasih doanya… Gimana Pak sudah bisa enjoy kan…

Salam
Purnama

Teman:

Ya pak Pur,
Aku cuma teringat waktu di Jerman, pembimbingku Prof. Horst Ermel, (inget bener namanya), kala itu aku kerja sampai malem di lab. lha dari pada pulang yo raono bojone… he he he, padahal nek nongomah ono bojone yo ratau buru2 mulih yo (wong anak2e rung do turu he he he). Dia bilang kala itu (dlm bhs jerman tentunya) terjemahannya kira2 gini…. Hai Rif ngapain
kamu kerja sampai larut malem? (kebetulan dia ke lab ngambil sesuatu yang ketinggalan). Sana pulang… enjoy your life…. Di Jerman udah gak musim gitu ahhhhh.

Jerman dulu terkenal sebagai bangsa yang bekerja keras, sekarang mereka menyadari, ternyata hidup perlu dinikmati. Jangan kaget kalau ke jerman, hari Minggu toko Tutup, karena gak boleh kerja. Orang dilarang bekerja lebih dari 8 jam/hari.
Lha saat ini aku semakin bisa menikmati hidup, karena kurasakan segala sesuatu yang sedang kukerjakan adalah amanah yang di Atas, segala yang menimpaku adalah kehendakNya, dan aku yakini semua itu untuk kebaikanku juga, bukan ambisi mencapai sesuatu secara pribadi. Untuk itu kulaksanakan dengan segala kenyamanan karena ikhlas….. kan dapat pahala. wah uenak
tenan. he he he
Selamat menikmati perjuangan!!!!!!! awali dengan Bissmillah agar ada tambahan bonus pahala
GAMBATE KUDASAIIIIIIIIIIIII

—————————————

Memang setiap orang (atau bangsa) mempunyai cara yang berbeda-beda dalam menikmati hidup. Kalau di Jerman orang dilarang bekerja lebih dari 8 jam sehari, lain halnya dengan di Jepang yang biasa bekerja keras hingga larut malam. Begitupun dengan di Indonesia, China, India dan negara-negara lain mempunyai cara yang berbeda dalam menjalani dan menikmati hidup. Mungkin apa yang disampaikan oleh teman saya itu ada benarnya, membatasi jam kerja agar punya waktu lebih untuk bersantai. Akan tetapi konsep menikmati hidup tentunya tidak sesederhana itu. Masing-masing individu mempunyai konsep yang berbeda-beda, tergantung pada budaya, agama, dan tingkat kesejahteraan. Untuk negara semakmur Jerman tentunya masuk akal apabila pembatasan jam kerja diberlakukan. Akan tetapi untuk negara yang masih harus berjuang dan bekerja keras untuk mencapai kemakmuran, tentunya konsep tersebut kurang pas diberlakukan. Dalam agama islam, manusia disuruh bekerja keras sebagai suatu bentuk ibadah.

Buat saya pribadi, menikmati hidup adalah menjalani semua yang telah diberikan Sang Khaliq dengan kerja keras sesuai dengan kemampuan, diiringi rasa ikhlas dan syukur atas semua rahmat yang telah dilimpahkan, serta diawali dengan niat ibadah. Jadi menikmati hidup tidaklah selalu selaras dengan bersenang-senang, santai dan tidak bekerja keras.

Sumo

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 12:29 am
Sumo. Ya itulah nama olah raga tradisional Jepang yang hanya bisa dilihat di negara asalnya, Jepang. Olahraga ini dikenal luas di Indonesia, tapi untuk menyaksikan pertandingan ini secara langsung di Indonesia adalah sesuatu yang mustahil. Sudah lama keiginanku untuk melihat olahraga itu. Ini adalah salah satu obsesi saya yang “harus“ terpenuhi selama berada di Jepang, yaitu melihat secara langsung pertandingan sumo, olahraganya orang besar (gendut) menggunakan kostum yang terbuat dari kain yang dibentuk sedemikian rupa untuk menutup bagian vital.

Hari minggu tanggal 18 Nov 2007 bersama-sama puluhan mahasiswa Indonesia dan keluarganya yang sedang belajar di Fukuoka, dengan sponsor dari Kyudenko (perusahaan listrik Jepang), obsesi yang sudah lama terpendam akhirnya terpenuhi. Tiket seharga 3100 yen dibagi-bagikan secara gratis oleh Kyudenko untuk masyarakat Indonesia yang ada di Fukoka.

Sore itu, di tengah udara dingin yang bertiup menusuk kulit, saya bersama beberapa teman berangkat naik bus dari Kyushu Uinversity Kaikan. Kamera digital dengan memory card yang sudah dikosongkan, serta battery yang sudah di-recharge penuh sudah disiapkan untuk merekam momen menarik ini. Singkat kata, sampailah kami di Fukuoka Kokusai Center, semacam stadion olahraga tertutup yang cukup besar. Bergegas kami masuk ke stadion dan berusaha mencari tempat duduk sesuai dengan nomor yang ada di tiket masing-masing. Tapi, kesabaran masih harus diuji. Mencari nomor tempat duduk bukanlah sesuatu yang mudah. Tulisan kanji di setiap sudut stadion merupakan tantangan tersendiri yang harus dipecahkan untuk mendapatkan tempat duduk yang dicari. Akhirnya, setelah melalui perjuangan, nomor kursi dapat saya temukan. Bagaikan seorang kameraman profesional, kamera segera disiapkan dan beberapa jepretan foto berhasil diabadikan.

Sumo, walaupun merupakan olahraga kuno Jepang, ternyata memang sangat menarik untuk hiburan. Pertandingan ini dipimpin oleh seorang wasit dibantu oleh dua atau tiga orang yang bertugas membersihkan arena pertandingan menggunakan sapu. Mereka semua mengenakan pakaian tradisional Jepang. Pertandingan hanya berlangsung satu ronde dan selesai apabila lawannya keluar dari lingkaran maupun terjatuh. Jadi pertandingan sumo sangatlah singkat, sering kali hanya beberapa detik saja, sementara persiapannya cukup lama. Pemenang akan mendapatkan bingkisan yang diserahkan di atas arena oleh wasit melalui gerakan ritual tertentu. Kelakar saya kepada teman-teman, syarat utama untuk “boleh” bemain sumo adalah harus punya pantat yang mulus. Ya memang dalam olahraga ini pantat adalah bagian tubuh yang paling dominan menjadi pusat perhatian penonton. Selain itu mereka harus bisa jongkok di atas dua kaki dan melakukan gerakan mengangkat kaki ke samping tinggi-tinggi, seperti gerakan anjing yang kencing. Memang dua macam gerakan ini harus bisa dilakukan oleh pesumo, dan saya kira cukup sulit dilakukan khususnya oleh orang dengan ukuran badan XXXXXL. Kalau pada pertandingan tinju, sebelum bertanding petinju biasa melakukan gerakan memukul sambil loncat-loncat kecil. Sedangkan pada sumo petarung biasa malakukan gerakan unik, yaitu memukul-mukul pantatnya masing-masing……..:-)

November 20, 2007

Winter has come

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 1:13 am
Sebenarnya sudah beberapa hari ini suhu dingin kota Fukuoka menusuk kulit tangan, wajah dan sekujur tubuh. Tapi entah kenapa pagi ini nuansa winter lebih terasa dari hari-hari sebelumnya. Ada keengganan yang kuat untuk segera bangkit dari tidur di pagi hari untuk segera menunaikan sholat subuh, sujud kepada sang khaliq. Tetapi yang lebih terasa adalah perasaan jenuh dan bosan akan rutinitas yang baru dijalani beberapa minggu ini di kota Fukuoka, tempat harapan masa depan aku perjuangkan.

Di dalam bus sepanjang perjalanan dari rumah ke kampus perasaan ini aku sampaikan kepada sahabat saya. Saran dan solusi mereka sampaikan, tapi perasaan yang sama masih tetap menggelayuti pikiran. Mungkinkah ini perasaan sesaat yang akan segera hilang nanti petang? Ataukah ini karena kerinduan yang mendalam sama orang-orang yang aku cintai yang terpaksa aku tinggalkan? Hingga coretan ini aku tuliskan, belum ada jawaban yang membuat perasaanku menjadi lega……

Blog at WordPress.com.