Purnama`s virtual notes

May 30, 2008

Salah sambung

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 5:09 pm

Kejadian salah sambung ketika menelpon mungkin merupakan sesuatu yang biasa saja. Tapi hari ini, kejadian salah sambung merupakan sesuatu yang sangat menggelikan buat saya. Bagaimana tidak, kalau dalam waktu 30 menit saja saya mengalami enam kali salah sambung. Dua kali saya menelpon nomor yang salah, dan empat kali saya menerima telpon yang salah alamat.

Ketika menerima salah sambung yang pertama dan kedua saya masih menganggap itu suatu yang wajar, dan masih bisa excuse. Baru ketika menerima telpon salah sambung ketiga saya mulai sadar bahwa ini kejadian yang lucu dan aneh. Dan ketika menerima salah sambung yang keempat, meledakklah ketawa saya…..

Lalu kenapa saya bisa dua kali menelpon nomor yang salah? Ya…..mungkin karena memang pada saat saya mencari nama di Phonebook HP saya tidak terlalu berkonsentrasi dengan apa yang sedang saya kerjakan. Suatu hal yang sangat wajar menurut saya, apalagi dalam kondisi emosi yang lagi nggak stabil…. Maklum banyak yang harus dipikirkan: urusan pribadilah, persiapan filedtrip ke Miyazaki awal bulan depan, menulis artikel untuk ASIA GIS 2008 Conference di Korea Selatan, ngurusin banyak orang untuk terlibat di acara Peringatan 50 tahun Hubungan Indonesia-Jepang…… dan lain-lain….dan lain-lain……

Meski hari ini bukan Friday the 13th, tapi memang hari ini terasa aneh……..

May 21, 2008

PPI Jepang Latih Ratusan Calon Wirausaha Muda Indonesia

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 2:58 pm

Suara Merdeka

Tokyo, CyberNews. Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Jepang (koordinator daerah Kyushu-Okinawa) melatih ratusan calon wirausaha muda Indonesia di kota Saga, bagian selatan Jepang.

Kesempatan ini diwujudkan dalam bentuk Pelatihan Wirausaha dan Edukasi Perbankan (PWEP) yang dilaksanakan pada tanggal 18 Mei 2008 kepada para peserta magang. Jumlah peserta yang mengikuti acara ini sebanyak 120 orang.

Tenaga Kerja Indonesia (kenshusei) yang sekarang sedang bekerja di industri kecil dan menengah (IKM) di Jepang. Pilihan untuk menjadi wirausaha merupakan salah satu alternatif terbaik yang dapat ditempuh oleh para kenshusei karena potensi keahlian yang diperoleh dari hasil magang dan adanya akumulasi modal usaha dari tabungan selama mereka bekerja di Jepang, demikian salah satu hasil kesimpulan dalam sesi akhir acara ini.

PWEP ini sendiri merupakan bagian integral dari program aksi bersama beberapa instansi pemerintah (KBRI Tokyo, KJRI Osaka, BI Tokyo, BNI Tokyo, Lembaga Penyalur Tenaga Kerja ke Jepang, Kementerian Koperasi dan UKM, Departemen Perindustrian), WGTT dan PPI di Jepang dalam rangka mengembangkan, potensi wirausaha tangguh dari program magang di Jepang.

Selain acara pelatihan, pada hari yang sama atas inisiatif dari PPI Jepang Korda Kyushu juga telah digagas forum tentang program Japan-Indonesia Friendship. Forum tersebut dihadiri oleh dua anggota parlemen propinsi Saga, Hirotsu Motoko dan Hiroshi Ogushi dan beberapa anggota LSM Jepang.

Dari pihak Indonesia di wakili oleh Koordinator Fungsi Ekonomi KBRI Tokyo, Ridwan Abbas, perwakilan dari BI Tokyo, Direktur WGTT, pengusaha dan perwakilan mahasiswa Indonesia. Pertemuan kedua belah pihak dalam forum ini juga mencairkan kebekuan komunikasi yang selama ini terjadi diantara kedua belah pihak sehubungan dengan banyaknya kasus pelanggaran ijin tinggal (overstay) para kenshusei khususnya yang bekerja di daerah Jepang Selatan.

Untuk menyelenggarakan program ini, PPI Tokyo menjalin kerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo, Bank Indonesia (BI) Tokyo dan tim Working Group for Technology Transfer (WGTT) Jepang.

Selimut Hati

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 12:31 pm

by: Dewa 19

May 20, 2008

100 tahun kebangkitan nasional Indonesia

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 11:00 am

Mungkin banyak di antara kita yang tidak tahu atau lupa makna tanggal 20 Mei buat bangsa Indonesia. Saya sendiri baru tersadar ketika beberapa hari yang lalu di milis PPIF diposting mengenai survey yang dilakukan oleh mahasiswa di Melbourne Australia. Survey yang ditujukan untuk mengetahui pemahaman rekan-rekan mahasiswa di Melbourne terhadap makna peristiwa di balik tanggal 20 Mei tersebut. Hasilnya….ternyata banyak yang tidak tahu kapan hari kebangkitan nasional diperingati dan apa makna dari hari itu.

Hari kebangkitan nasional diperingati setiap tanggal 20 Mei untuk mengenang berdirinya organisasi Boedi Utomo, sebagai tonggak awal bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan 350 tahun. Organisasi Boedi Oetomo yang didirikan oleh Dr. Soetomo pada hari Minggu 20 Mei 100 tahun lalu [1908] pada pukul sembilan pagi, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA. Pada awalnya adalah organisasi kepemudaan yang bertujuan untuk memikirkan dan memperbaiki nasib bangsanya, terutama untuk wilayah pulau Jawa dan Madura.

Boedi Oetomo lahir dari pertemuan-pertemuan dan diskusi yang sering dilakukan di perpustakaan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen oleh beberapa mahasiswa, antara lain Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman. Mereka memikirkan nasib bangsa yang sangat buruk dan selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa lain (Belanda), serta bagaimana cara memperbaiki keadaan yang amat buruk dan tidak adil itu. Para pejabat pangreh praja (sekarang pamong praja) kebanyakan hanya memikirkan kepentingan sendiri dan jabatan. Dalam praktik mereka pun tampak menindas rakyat dan bangsa sendiri, misalnya dengan menarik pajak sebanyak-banyaknya untuk menyenangkan hati atasan dan para penguasa Belanda. Dengan semakin berkembangnya organisasi Boedi Oetomo ini, semakin tumbuh pula semangat nasionalisme dan membawa organisasi ini aktif dalam kancah politik.

Selanjutnya pada 1912 berdirilah partai politik pertama Indische Partij. Pada tahun ini juga Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (Solo), KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadyah (Yogyakarta) dan Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Bumi Putera di Magelang. Peristiwa penting kedua yang menandai masa kebangkitan nasional adalah peristiwa Sumpah Pemuda pada tahun 1928.

Seratus tahun kebangkitan nasional merupakan waktu yang cukup panjang. Kemerdekaan yang merupakan cita-cita awal kebangkitan nasional 100 tahun yang lalu memang sudah bisa diraih pada pada tahun 1945. Akan tetapi apakah perbaikan nasib bangsa Indonesia sekarang sudah seperti apa yang dicita-citakan oleh dr. Soetomo seratus tahun lalu? Kalau membandingkan dengan keadaan rakyat kita 100 tahun lalu, memang nasib rakyat kita sekarang sudah jauh lebih baik. Kemerdekaan, hak asasi, meskipun belum dalam arti seutuhnya memang sudah bisa diraih. Sandang, pangan, papan, pendidikan, meskipun masih ada ketimpangan yang sangat besar antara si kaya dan si miskin, toh sudah bisa dirasakan. Tetapi apakah kondisi seperti ini yang dicita-citakan oleh dr. Soetomo ketika mendeklarasikan Boedi Oetomo waktu itu? Jawabaanya menurut saya tidak. Dalam benak saya, kemerdekaan yang utuh, hak asasi yang sepenuhnya, kesejahteraan dalam keadilan yang sesungguhnya adalah cita-cita dr. Soetomo seratus tahun yang lalu. Dan jelas terlihat bahwa cita-cita dr. Soetomo belum bisa direalisasikan oleh anak cucunya hingga detik ini. Masih banyak saudara-saudara kita yang bernasib sangat buruk, dianggap bodoh dan tidak bermartabat di antara negara lain, serta para pejabat yang hanya memikirkan kepentingan sendiri dan jabatan, merupakan realitas yang kita hadapai saat ini, yang seratus tahun lalu merupakan alasan bagi dr. Soetomo untuk mendirikan organisasi Boedi Oetomo.

Setelah seratus tahun, ternyata anak cucu dr. Soetomo belum bisa mewujudkan cita-cita luhur pendiri bangsa ini. Bandingkan dengan negara tetangga kita seperti Jepang, Malaysia, Singapura. Jepang yang mendeklarasikan Restorasi Meiji pada tahun 1869 telah berhasil membawa negara itu sejajar dengan negara barat. Dengan restorasi Meiji, dalam waktu kurang dari 100 tahun (1905) Jepang telah mampu memajukan ekonomi dan industrinya serta menjadi negara dengan kekuatan militer yang disegani (ingat perang dunia kedua), melalui slogan “Enrich the country, strengthen the military”.

Malaysia yang meraih kemerdekaan pada tahun 1957, yang dulu berguru kepada Indonesia sekitar tahun 1970-an, kini telah mampu meningkatkan kualitas pendidikan dengan kualitas pendidikan ala negara barat, serta menjadi salah satu negara termakmur di Asia. Begitu juga dengan Singapura yang mendeklarasikan kemerdekaanya pada Agustus 1963 dari Inggris, telah menjadi negara kecil dengan kemampuan ekonomi yang sangat kuat.

Ketiga negara tersebut, Jepang, Malaysia, dan Singapura berhasil bangkit dan mencapai kemakmuran dalam kurun waktu kurang dari 100 tahun! Bagaimana dengan Indonesia yang pada hari ini genap 100 tahun kebangkitan nasional? Mungkin saat ini dr. Soetomo sedang memandang kita dengan sedih. Bangsa yang dia wariskan kepada kita ternyata belum juga bangkit dari keterpurukan ekonomi, perseteruan antar etnis dan agama, keterpurukan moral, keterpurukan pendidikan, keterpurukan pengelolaan BBM, keterpurukan………….

Sampai kapan kita harus menunggu kebangkitan nasional dalam arti yang seutuhnya? Dua puluh Mei tahun depan? Lima tahun lagi? Seratus tahun lagi…….? Atau justru kita hanya bisa bermimpi…? Semoga tidak demikian.

Selamat 100 tahun hari kebangkitan nasional Indonesia.

May 14, 2008

Kolaborasi musik Indonesia-Jepang

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 5:41 am

Sering kita mendengar dan melihat kolaborasi musik, seperti kolaborasi antar dua kelompok musik dalam suatu pementasan. Jaduk Feriyanto, salah satu kampiun musik kontemporer Indonesia, sering mengkolaborasikan beberapa alat musik tradisional Indonesia, khususnya Jawa, dengan berbagai alat musik modern. Hasilnya….? Memang sangat menakjubkan…..! Kelompok Kyai Kanjeng pimpinan Cak Nun pun tak jarang mengkolaborasikan musik tradisional dengan alat musik modern di setiap pertunjukannya.

Tetapi pernahkah dalam sejarah musik ada kolaborasi alat musik tradisional daerah antara dua negara, khususnya alat musik bambu? Mungkin ya, mungkin juga tidak… Yang jelas, fenomena kolaborasi musik tradisional antar negara memang sangat sulit dijumpai. Di tengah gempuran instrumen musik elektrik yang dapat menghasilkan suara yang sangat bervariasi, kehadiran musik tradisional sudah sejak lama dipandang sebelah mata. Oleh karena itu, di jaman sekarang musik tradisional sudah tidak lagi menjadi konsumsi utama para penikmat musik, terutama para kaum muda. Selera musik kelompok usia ini memang sudah berubah. Bisa dikatakan, sekarang ini kehadiran musik tradisional hanyalah sekedar untuk mempertahankan tradisi dan budaya suatu daerah karena alat musik tradisional merupakan ciri khas sebagai perwujudan seni budaya daerah yang bersangkutan.

Dalam perjalanan sejarah bermusik saya yang sangat amatiran, hari Selasa 13 Mei yang lalu merupakan hari yang sangat istimewa buat saya. Pada hari itu sekitar jam 19.30 telah terjadi peristiwa sejarah dalam dunia musik dengan dilakukannya kolaborasi musik tradisional Indonesia yaitu angklung dari Jawa Barat dengan musik tradisional bambu Jepang. Hari itu merupakan latihan bersama yang pertama antara kelompok musik angklung yang dimainkan oleh mahasiswa PPI Fukuoka dan Kelompok lagu-lagu Kai Jepang pimpinan Kubokura-san, berkolaborasi dengan kelompok musik bambu ternama Nakagawa Bamboo Orchestra, sebagai persiapan untuk tampil bersama dalam acara yang bersejarah dan fenomenal, yaitu Peringatan 50 tahun Hubungan Jepang-Indonesia (PHIJ50) di Fukuoka. Merasa intimewa rasanya menjadi salah satu personil pemain angklung yang pada awal bulan Juni tahun ini akan tampil berkolaborasi musik tradisional bersejarah dalam event akbar yang bersejarah pula. Sebagai pemusik amatiran tentunya perasaan ini tidak terlalu berlebihan. Mengingat untuk bisa tampil di event besar naruslah orang-orang yang punya kemampuan dan talenta yang istimewa. Tapi saya ini apa….. hanya seorang pemain angklung amatiran yang pegang alat musik angklung saja baru beberapa minggu yang lalu. Maka tidak terlalu berlebihan rasanya apabila saya memiliki perasaan senang, bangga dan merasa istimewa karena terlibat dalam kolaborasi musik ini.

Agak sulit buat saya menjelaskan secara detil alat musik tradisional Jepang yang menjadi partner kami dalam berkolaborasi. Pada dasarnya, alat musik ini sangat sederhana. Hanyalah potongan-potongan bambu dengan ukuran yang berbeda-beda sehingga ketika dipukul dari ujungnya dengan alat pemukul akan menghasilkan nada-nada yang indah. Potongan bambu-bambu kecil digunakan untuk menghasilkan suara melodi, sementara potongan bambu yang besar untuk menghasilkan suara bass. Kelompok Nakagawa ini terdiri dari sekitar 16 personil. Yang menarik dari kelompok ini adalah, personil yang terlibat terdiri dari tiga generasi yang berbeda. Kelompok tertua sebagai generasi pertama adalah kakek-kakek berusia sekitar 70an. Generasi kedua ada ibu-ibu dan bapak, sedangkan generasi ketiga terdiri dari anak-anak berusia antara 6 sampai sekitar 13 tahun, mereka semua perempuan. Meskipun masih anak-anak, generasi ketiga ini sangat terampil dalam memukul bambu sesuai dengan nadanya. Bahkan karena sudah mahir, mereka tidak perlu lagi membaca partitur, secara refleks mereka sudah tahu kapan harus memukul bambu dan bambu yang mana yang harus dipukul. Karena waktu itu latihannya malam, ada anak kecil yang sambil terkantuk-kantuk berusaha tetap di tempat, sambil dengan tangkas memainkan nada yang diperankan. Suatu pemandangan yang lucu…. Dari sisi regenerasi, kolaborasi dari tiga generasi kelompok musik bambu Nakagawa ini patut diacungi jempol. Suatu usaha melestarikan tradisi yang sangat efektif.

Dalam latihan itu lagu yang kami mainkan adalah dua lagu Jepang berjudul Sen no kaze ni natte dan Nada sou sou. Penampilan kelompok Nakagawa Bamboo Orchestra dalam memainkan lagu Sen no kaze ni natte dapat disimak di bawah:

May 12, 2008

Tiga bidadari kecil

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 4:16 am

Pagi itu hujan gerimis menemani kepergianku dari rumah ke halte bus. Tangan kanan memegang payung, tangan kiri mengendalikan stang sepeda. Sepeda pun saya kayuh pelan-pelan karena sulit mengendalikan laju sepeda dengan tangan satu, apalagi ditambah dengan terpaan angin yang mendorong payung dan badanku ke kiri dan ke kanan. Begitu sampai dekat halte, sepeda saya parkir dan kunci, dan saya bergegas menuju ke halte, takut ketinggalan bus rute 22N, 27N atau Tenjin.

Begitu bus berhenti tepat di depan halte Najima Danchi, bergegas saya dan penumpang lain berhamburan masuk ke dalam bus. Tiket bus saya masukkan ke dalam mesin validasi tiket, dan segera mata melihat sekeliling mencari tempat duduk yang kosong. Sejurus mata saya mengarah ke bagian belakang bus. Ya di sana ada satu kursi kosong, begitu pikir saya. Lumayanlah bisa duduk 20 menit sampai ke halte Tenjin Yubinkyoku. Begitu siap-siap mau duduk, tiba-tiba ada perempuan tua berjalan kearahku. Rupanya dia sedang mencari tempat duduk yang kosong juga. Maka saya persilahkan perempuan tua itu untuk mengambil tempat duduk yang sedianya mau saya pakai. Ii desu ka? Begitu katanya. Sambil tersenyum saya mengangguk dan memberi tanda dengan tangan mempersilahkan dia duduk.

Begitu tidak ada lagi kursi kosong saya segera bergerak ke bagian depan. Ya memang lebih enak berdiri di depan karena lebih longgar, selain tentu saja keluarnya lebih cepat karena pintu keluar ada di depan. Saya segera bergerak ke dapan mencari ruang kosong dan tempat pegangan tangan. Segera setelah mendapat tempat kosong, pandangan mata saya tertambat ke arah dua sosok bidadari mungil berseragam sekolah di sebelah kiri saya berjarak satu setengah meter. Ini adalah sudah yang kesekian kali saya menemukan bidadari kecil yang lucu. Kalau dihitung, sudah beberapa kali saya menemukan mereka tanpa didampingi orang tua mereka naik bus ke sekolah untuk jarak yang cukup jauh. Dan setiap kali itu pulalah hati saya langsung tertambat. Setelah saya perhatikan lagi, ternyata kali ini mereka tidak hanya berdua, tapi bertiga. Yang dua duduk di kursi single, yang satu berdiri.

Kalau melihat baju seragam yang dikenakan dan ukuran fisik mereka, tampaknya mereka masih TK, atau setidaknya kelas 1 SD. Yang dua seumur, dan yang satu tampaknya lebih muda lagi, masih seumur TK. Mereka mengenakan baju dalam warna putih, ditutup rompi warna biru tua cenderung gelap, serta rok sewarna dengan rompi. Mengenakan topi sewarna dengan rompi dibalut kain melingkar warna merah hati. Topi ini tampak lucu sekali, bentuknya mirip topi pramuka untuk laki-laki, dan di bagian depan ada ornamen dasi kupu-kupu warna merah hati juga. Menggendong tas ransel khas Jepang, bentuk kotak, warna merah hati. Satu lagi tas tentengan warna biru tua.

Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya saya mengamati mereka. Begitu bus turun dari jalan layang dan berhenti di halte Kuramoto, beberapa penumpang turun. Karena ada kursi kosong, seorang ibu mempersilakan bocah yang tadinya berdiri untuk duduk di kursi itu. Hampir semua gerakannya saya amati, mengingatkan saya pada anak saya yang kecil. Setelah merasa nyaman dengan duduknya, bocah kecil itu mulai membuka tasnya. Dia mengeluarkan dompet berisi alat tulis, kemudian mengeluarkan sebatang pensil warna coklat tua. Dompet ditutup dan ditaruh di samping kanannya. Kemudian dia mulai sibuk lagi mencari sesuatu di dalam tasnya. Dua buah buku dia keluarkan, dan ditaruh di atas tas di pangkuannya. Buku dia buka, dan kekaguman saya kembali muncul. Ternyata dia membuka buku tulis, dan di sana saya lihat banyak tulisan huruf kanji. Rupanya buku itu buku latihan menulis huruf kanji, dan dengan serius dia mulai berlatih menulis kanji. Suatu pemandangan yang mengagumkan! Dan beberapa menit kemudian, bus sampai di halte Tenjin Yubinkyoku. Saya harus turun dan melanjutkan perjalanan ke kampus dengan bus yang lain.

Sepanjang perjalanan menuju halte bus berikutnya di Solaria Stage tak henti-hentinya saya memikirkan pengalaman yang baru saja dilihat. Dua gadis kecil berusia sekitar 6 tahun dan satu berusia sekitar 4.5 tahun naik bus ke sekolah tanpa diantar orang tua. Di manakah gerangan mereka sekolah? Sebegitu amankah Fukuoka sehingga orang tua berani melepas anak-anak mereka pergi ke sekolah tanpa diantar?

Dari pengalaman dan cerita teman-teman, Fukuoka memang terkenal kota yang aman. Bahkan karena keyakinan pemerintah Fukuoka akan keamanan kotanya, ada peraturan sekolah bahwa sejak SD anak-anak tidak boleh diantar orang tuanya ke sekolah. Sistem lalulintas yang teratur dan tertib membuat orang tua tidak perlu khawatir anak-anak mereka menyeberang jalan. Suasana ini sedikit banyak telah melatih keberanian anak untuk mandiri dalam beraktifitas. Dan… kehadiran bidadari kecil ini selalu menyadarkanku betapa saya sangat merindukan buah hatiku di seberang sana…..

May 10, 2008

Tour de Fukuoka

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 3:54 am


No pain no gain, begitulah kira-kira ungkapan lama yang sering kali kita dengar untuk menggambarkan bahwa setiap keberhasilan memerlukan usaha. Begitupun dengan kesehatan, harus diupayakan dengan usaha, dengan olahraga disertai pola hidup dan pola makan yang sehat.

Berkaitan dengan olahraga, buat saya pribadi, tinggal sendiri di Jepang telah memberi anugerah tersendiri: kesempatan yang besar untuk berolah raga. Karena dimanjakan oleh fasilitas, keinginan lama yang selalu saja menjadi impian ketika masih di Yogya akhirnya dapat dengan mudah diraih di sini. Fasilitas dan lingkungan di sini sangat mendukung untuk itu.

Bukannya tidak punya biaya kalau akhirnya saya dan teman-teman pada hari selasa tanggal 6 kemarin memutuskan untuk pergi ke Fukuoka Tower dengan bersepeda. Secara teknis, tempat wisata ternama di Fukuoka itu mudah sekali dijangkau dengan bus. Tiket pun sebenarnya sudah dimiliki karena kami memiliki tiket bus bulanan yang bisa dipakai berkeliling kota. Tetapi sensasi naik sepeda serta berolah raga itulah yang membuat kami sepakat bersepeda bersama. Kalau di Yogya ada gerakan bersepeda ke kantor dengan slogan “Bike to work”, maka kami pun punya slogan: “Bike for health”.

Meskipun melelahkan, Tour de Fukuoka kemarin sangat menyenangkan. Karena ide tour dicetuskan oleh saya dan Pak Taufik A yang perutnya sudah ber-tas pinggang, maka mengurangi ukuran tas pinggang merupakan salah satu misi utama kami. Diikuti oleh 6 peserta tour, terdiri dari 2 bujang tulen dan 4 bujang lokal. Jangan dibayangkan kami mengendarai sepeda balap maupun sepeda gunung yang mahal. Yang kami pakai adalah sepeda belanja! Ya sepeda yang didepannya ada keranjang untuk membawa belanjaan. Sepeda punya saya adalah karena budi baik Pak Arif yang mewariskan sepedanya karena pulang ke Indonesia beberapa bulan yang lalu. Sepeda Pak Imam dan Kashogy adalah sepeda pinjaman dari Pak Yayan dan Anjas. Sepeda Pak Andi adalah sepeda yang sudah berbulan-bulan tidak dipakai sehingga ban depan dan belakang kempes. Ya karena di sini sepeda adalah sarana transportasi harian, maka yang paling populer adalah sepeda belanja karena multi guna.

Perjalanan yang dimulai jam 8.30 pagi mengambil jalur terdekat dengan pantai karena perjalanan ini dimulai dari tempat tinggal kami yang dekat dengan pantai, dan tujuan akhir yang juga di pinggir pantai. Karena melalui jalur yang tidak dilalui bus, kami sempat kesasar di sekitar pelabuhan barang, bahkan sempat dikejar anjing galak! Ternyata menjelajah kota dengan bersepeda sangat mengasyikkan. Beberapa tempat menarik sempat kami singgahi: Fukuoka harbour, kuil, Hawks Town Futsal Stadium, Fukuoka Yahoo! Dome. Perjalanan itu akhirnya sampai di tempat tujuan Fukuoka Tower, the landmark of Fukuoka City, sekitar jam 10.30.

Setelah merasa cukup jalan-jalan di sekitar tower, main-main di pantai dan melihat-lihat studio robot, akhirnya kami memutuskan untuk balik. Kali ini rutenya tidak sama dengan ketika berangkat. Karena selain memang kami tidak ingat lagi rute berangkatnya tadi, kali ini kami akan mampir di Hakozaki untuk makan siang Sushi. Sepeda kembali kami kayuh. Sekali-kali kami harus turun dari sepeda ketika di depan traffic light karena pantat terasa panas dan sakit akibat terlalu lama duduk di jok sepeda. Meskipun cuaca cukup panas, sekitar 25 derajat, tapi keringat tidak mengucur di kening kami, karena udara yang kering.

Dan sekitar 1 jam kemudian sampailah kami di rumah makan Sushi di kawasan pusat belanja Boxtown, Hakozaki. Rumah makan ini modelnya seperti bar, dan sushi disajikan dengan cara ditaruh di atas mesin yang bergerak berputar melintasi semua meja pengunjung, mirip seperti rangkaian kereta api mini. Pengunjung tinggal mengambil dua potong sushi yang sudah disajikan di atas piring kecil. Yah karena kelaparan, kami makan sushi antara 4 sampai 6 piring. Tarif termurah perpiring 105 yen, plus fasilitas teh hijau gratis. Setelah kenyang kami pun melanjutkan perjalanan ke rumah yang sudah cukup dekat, sekitar 20 menit dengan sepeda.

Sekitar jam 15 kami sampai di rumah di Najima. Pak Imam dan Kashogy mampir ke rumah saya untuk sholat dan istirahat sebentar, sementara Pak Andi dan Mas Adi langsung meluncur ke rumah mereka. Setelah merasa cukup istirahat sekitar 40 menit, saya dan Kashogy pergi ke Kaikan untuk bermain pingpong sama Pak Yayan dan Pak Taufik B, sementara Pak Taufik A dan Pak Imam masih tidur terlelap. Yah.. maklumlah bujang lokal, harus banyak mencari alternatif aktivitas yang positif…. . No pain no gain. Kalau mau sehat ya olah raga……

May 8, 2008

Hakata Dontaku

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 6:00 am


Di bawah hangatnya (cenderung panas) sinar matahari musim semi, sepasang Hanoman kembar, sang Gatotkaca yang gagah perkasa dan sepuluh pasukan berkuda beraksi di sepanjang jalan di Bumi Matahari Terbit. Si Hanoman kembar bagaikan kesurupan berlari ke sana ke mari sambil membawa kain berwarna merah-putih yang diikatkan pada sepotong tongkat. Sang Gatotkaca mengerahkan seluruh tenaganya memamerkan kekuatan otot kawat balung wesinya, berusaha keras mengamankan situasi. Sementara itu, pasukan berkuda dengan gagah berani dan kompak memperagakan gerakan-gerakan dalam formasi pasukan dikomandoi oleh sang komandan. Namun cuaca yang panas membuat beberapa kuda yang sudah mulai kehausan tidak bisa dikendalikan dan keluar dari barisan. Ekornya dikibas-kibaskan ke kiri dan ke kanan. Kaki depannya berulang kali diangkat tinggi-tinggi menyebabkan penunggangnya hampir saja jatuh terhengkang ke samping maupun ke belakang. Mereka sering kali melakukan gerakan-gerakan tak terduga yang dapat membahayakan pasukan penunggang maupun orang yang berada di dekatnya. Kuda jantan hitam dan merah yang sudah dipersiapkan beberapa hari sebelumnya itu memang dalam kondisi terbaik. Tidak jarang kuda-kuda melompak tinggi, mengkal-mengkal (bahasa jawa), berputar-putar, dan bahkan menghampiri orang-orang di sepanjang jalan. Melihat kejadian yang spontan ini, orang-orang di pinggir jalan tak sungkan-sungkan bersorak dan bertepuk tangan.

Pasukan berkuda yang memang khusus didatangkan dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadinengrat ini memang mempunyai misi khusus mengawal para tamu negara dari Bumi Katulistiwa yang sedang mengemban tugas negara di Bumi Matahari Terbit. Mereka adalah para utusan dari negeri Jawa, negeri Sulawesi, dan negeri Sumatera, dan beberapa utusan dari tuan rumah negeri Matahari Terbit. Dengan ramah para duta negara ini melambai-lambaikan tangan dengan secarik kain warna merah-putih yang diikatkan pada sepotong kayu kecil. Senyuman ramah tanda persahabatan mereka tebarkan pada setiap orang yang mereka temui di sepanjang jalan.

Peristiwa itu merupakan adegan yang kami perankan pada hari Sabtu 3 Mei 2008 pada acara Hakata Dontaku. Hakata Dontaku adalah parade tahunan dan merupakan satu dari beberapa festival tebesar di Jepang dengan lebih dari 10 ribu performers dan lebih dari 2 juta pengunjung. Parade ini di selenggarakan di sepanjang Meiji Street di Tenjin. Tiap tahun, festival diselenggarakan pada tanggal 3 dan 4 Mei, pada awal musim semi.

Hakata Dontaku berawal dari perayaan lokal tahun baru yang disebut Matsubayashi yang diselenggarakan tahun 1179. Tradisi ini kemudian menjadi festival yang besar untuk seluruh warga Jepang, di mana orang-orang melakukan parade dengan mengenakan pakaian-pakaian yang unik, menari, memainkan alat musik, dsb. Yang menjadi kebiasaan pada acara ini, orang-orang membawa dua sendok besar kayu (shamoji), mirip seperti sendok nasi, kemudian menepuk-nepukkan keduanya dalam festival. Kata Dontaku berasal dari bahasa Belanda “zontag” yang berarti hari libur. Ya memang Hakata Dontaku dilaksanakan bertepatan dengan libur nasional yang dikenal dengan Golden Week.

Meskipun memiliki nilai historis yang berbeda, acara ini mirip dengan festival tahunan Moomba Festival di Melbourne Australia.

Gambar berikut adalah formasi barisan kontingen Indonesia.

May 5, 2008

Aku cinta padamu – Siti Nurhaliza

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 8:47 am

Hmm…. let my soul flies away for few minutes to the past……….

May 2, 2008

Kenapa Orang Jepang panjang umur?

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 10:42 am


Pagi itu, hari minggu, saya di dapur mempersiapkan sarapan pagi. Sembari menunggu masakan, dari dapur di rumah yang terletak di lantai 4 saya melongok keluar pintu (sliding door) yang terbuat dari kaca. Di bawah terlihat para wanita Jepang yang sudah lanjut usia sedang bermain semacam golf tapi dengan bola yang relative besar. Dalam hati saya berpikir, di sini orang-orang seusia itu masih bermain seperti anak-anak di Indonesia. Mereka masih sehat dan enejik. Saya merenung, membayangkan para lansia seusia mereka di Indonesia yang pada usia itu sudah tidak bisa banyak beraktifitas. Hmmm kenapa orang Jepang bisa sehat-sehat dan panjang umur ya…? Lihat gambar di atas.

Suatu saat, beberapa bulan yang lalu ketika baru sampai di sini, saya bercerita sama istri saya bahwa orang di sini langsing-langsing, sangat sulit menemukan orang yang obesitas. Yang menjadi pertanyaan besar saya waktu itu adalah kenapa mereka pada langsing-langsing? Kenapa begitu sulit menemukan orang Jepang yang obesitas?

Buat saya yang bukan ahli kesehatan, tentu akan sulit menemukan jawaban atas semua pertanyaan di atas. Saya hanya bisa mengamati pola hidup mereka, kemudian meraba-raba mencoba mencari jawaban atas setiap pertanyaan yang muncul.

Dari dulu orang Jepang memang terkenal pekerja keras. Kedisiplinan dan etos kerja mereka memang patut diacungi jempol. Maka tidak heran bila teknologi Jepang bisa menguasai dunia. Yah.. kalau dulu Jepang gagal dalam menjajah negara-negara tetangga dengan kekuatan militer, maka sekarang Jepang mampu menaklukkan dunia melalui teknologi dan kemajuan ekonomi.

Di sini, kesehatan merupakan sesuatu yang mendapat prioritas utama. Di Kyushu University saja, setiap tahun dilakukan tes kesehatan untuk semua mahasiswanya. Yang dites meliputi berat badan dan ukuran lingkar perut, tinggi badan, tekanan darah dan rontgen. Apabila dijumpai seseorang tidak lolos satu diantara poin tersebut maka akan dilakukan tes lanjutan. Teman saya yang kelebihan berat badan, dan ukuran lingkar perut nya melewati batas normal, mendapat konsultasi khusus untuk melakukan diet dan olahraga.

Pola makan merupakan kunci utama kesehatan mereka. Makanan utama di sini adalah sayur, baik mentah maupun direbus, ayam, pork, dan ikan. Sashimi, yaitu sajian ikan mentah yang dimakan dengan saos Jepang merupakan makanan favorit saya …. hmmm oishi desu…. Satu kebiasaan di sini dalam memasak adalah meminimalkan (seminimal mungkin) penggunaan gula dan garam (wah sangat berbeda dengan di Indonesia ya…). Mereka hampir tidak pernah masak dan minum dengan gula. Ocha (atau teh) pahit adalah minuman keseharian mereka. Kalau masak tidak pernah pakai garam (apalagi penyedap rasa) karena pada dasarnya sayuran telah memiliki cita rasa tersendiri.

Bersepeda merupakan kegiatan sehari-hari buat orang Jepang, baik tua, muda, pelajar, pejabat, karyawan, manajer. Pergi ke toko, ke universitas, ke sekolah, maupun ke halte bus dilakukan dengan berjalan kaki maupun bersepeda. Kalau di Indonesia saya melihat parkiran sekolah SMP maupun SMA dipenuhi oleh sepeda motor, kalau di sini dipenuhi oleh sepeda. Suatu pemandangan yang mengagumkan…..

Buat saya, bersepeda merupakan satu hal paling mewah yang bisa saya lakukan di sini. Ya.. kalau dulu ketika belum berangkat ke sini saya pernah berencana beli sepeda untuk olah raga (tapi akhirnya tidak kesampaian karena keburu berangkat ke sini), akhirnya keinginan lama tersebut bisa terlaksana di sini. Bermain bulu tangkis yang sudah saya tinggalkan sekian tahun akhirnya bisa dilakukan di sini juga. Saya sering merenung, ternyata pola hidup kita banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Dengan lingkungan dan pola aktivitas di Yogya, olah raga merupakan sesuatu yang mewah yang sulit saya raih.

Next Page »

Blog at WordPress.com.