Purnama`s virtual notes

June 25, 2008

Bintan goes International

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 10:57 am

Hari itu saya pergi ke Travel Agent ternama di Fukuoka, Fukuoka No1 Travel, untuk mencari tiket pesawat ke Jogja untuk bulan Agustus ini. Sambil menunggu petugas yang ramah sedang memproses Travel estimation cost dan itinerary, saya menyibukkan diri dengan berkeliling ke sekitar ruangan. Banyak sekali brosur-brosur perjalanan ke luar negeri yang bisa dibaca maupun diambil gratis. Di sebelah kiri ruangan ada papan informasi di tempel di tembok yang menampilkan promotion tour information ke luar negeri, mulai dari Asia, Amerika hingga Eropa. Namun tidak satu brosur dan informasi yang mampu memikat saya. Di atas meja yang dilapisi dengan kaca bening, terpampang informasi paket wisata ke Bali. Hmmm…. yang ini sih tidak terlalu mengejutkan buat saya, karena Bali memang sudah terkenal dengan baik oleh dunia internasional, begitu pikir saya.

Sambil mondar-mandir ke sana-ke mari, mata saya masih fokus ke deretan brosur yang tertata rapi di rak di pinggir ruangan, juga di atas meja tamu. Sampai detik itu belum ada satupun brosur yang mampu memikat saya. Hingga akhirnya pandangan mata saya tertuju pada satu brosur yang dikemas eksklusif dalam bentuk buku, tersusun rapi di atas meja tamu berbentuk bundar. Jumlahnya tidak banyak, mungkin kurang dari sepuluh. Yang jelas, saya tidak terlalu asing dengan judul yang tertulis di sampul depan bagian kanan atas buku tersebut. Judul yang ditulis dengan huruf latin dengan variasi warna yang berbeda untuk setiap hurufnya, memang secara visual sangat menarik. Di bagian bawah ada satu baris tulisan kanji yang tidak bisa saya baca, dan di bawahnya lagi tertulis alamat website yang ditulis dengan huruf kecil. Seperti reflek, tangan segera saya ulurkan untuk mengambil buku itu. Wah..keren batin saya. Di situ tertulis ”Bintan Resorts”.

Meskipun di Indonesia Bintan belum sepopuler Bali, Jogja, Batam, dan tempat wisata lain di Indonesia, Bintan sudah mulai dipromosikan sebagai tujuan wisata bertaraf internasional sejak beberapa waktu yang lalu. Tapi yang membuat saya bangga dan kagum, Bintan sebagai daerah wisata yang relatif masih baru ternyata memiliki strategi pemasaran yang lebih gencar, dengan menawarkan potensi wisata pantai dan hutan. Meskipun belum setara dengan Bali yang bagi orang Jepang merupakan daerah wisata favorit, brosur-brosur wisata ke Bintan bisa ditemukan di travel agents di Jepang, salah satu negara yang memiliki potensi pasar wisata yang besar. Hanya brosur wisata ke Bali dan Bintan yang bisa saya temukan di tempat itu. Saya heran waktu itu, kenapa tidak ada brosur wisata ke Jogja, Batam, Nusa Tenggara, Lombok, Bunaken dan lain-lain?

Tahun 2008 ini Indonesia mencanangkan tahun kunjungan wisata Indonesia (Visit Indonesia year 2008 ) untuk merayakan 100 tahun hari kebangkitan nasional. Namun anehnya, gaung promosi wisata tidak terdengar, hanya adem ayem saja. Seolah-olah tulisan Visit Indonesia Year 2008 hanyalah slogan semata, tanpa ada usaha serius untuk menarik sebanyak mungkin wisatawan mancanegara ke Indonesia. Realita ini sangat kontras dengan Visit Malaysia 2007 yang lalu. Pada tahun 2007 usaha serius Malaysia untuk menarik wisatawan ke negara itu benar-benar terasa. Pada tahun itu, Malaysia berusaha menjadi host untuk penyelenggaraan event-event internasional, termasuk event ilmiah. Misi-misi kebudayaan ke luar negeri juga secara gencar dilakukan. Pada suatu kesempatan, beberapa bulan yang lalu saya melihat pertunjukan kebudayaan Malaysia di pusat perbelanjaan di dekat dormitory saya. Bahkan pada tahun ini, Visit Malaysia year diteruskan dengan Visit Trengganu 2008, Visit Kedah 2008, Visit Kelantan 2008 dan lain-lain. Suatu usaha serius dari pemerintah Malaysia untuk memajukan industri wisata.

Meskipun publikasi Bintan Resort ke dunia internasional cukup gencar, namun secara nasional, usaha nyata Indonesia untuk memajukan wisata Indonesia belum terlihat serius. Pulau Bintan dan Pulau Bali hanyalah sebagian kecil potensi wisata Indonesia diantara melimpahnya potensi wisata Indonesia yang sangat potensial dan belum tereksploitasi secara optimal.

June 17, 2008

Gitaris cilik jenius “Sungha Jung”

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 11:25 am

Terlalu banyak memang gitaris bagus dan berbakat tersebar di penjuru mata angin. Namun, gitaris cilik berusia 10 tahun dari Korea bernama Sungha Jung ini benar-benar memikat perhatian saya. Kemampuan bermain gitarnya sungguh luar biasa. Pada usia semuda itu dia sudah mampu memainkan lagu-lagu sulit seperti obladi oblada-nya The Beatles, More than words-nya Mr Big, Mission impossible theme song, dan segudang lagu-lagu sulit lainnya.

Yang patut diacungi jempol dari permainannya adalah kemampuannya dalam mengkoordinasikan jari-jari kanannya dalam memetik nada-nada melodi dan bass secara kompak dalam intonasi yang pas, serta kemampuan jari-jari tangan kirinya dalam menekan senar-senar gitar tidak terpaku pada chord-chord standar tapi mampu menghasilkan nada yang tepat. Karena kebetulan saya suka memainkan gitar dengan gaya yang sama dengan dia yaitu ”fingerstyle” (meskipun kemampuan saya jauh di bawah dia), mudah buat saya untuk menilai kemampuan bermainnya yang luar biasa. Kejeniusannya memang patut diacungi dua jempol.

Kemampuan Sungha Jung tidak hanya diakui di negerinya sendiri Korea, tapi banyak peminat musik gitar yang memberikan apresiasi yang sangat baik di web-web mereka. Berikut salah satu statemen di Guitarflame.com :
“The truth is that I was charmed by how he plays the guitar. It is the admiration of somebody knowing that what he sees is out of his reach, and so it is. He plays at 11 better than me, I am not embarrassed to say this in any way. I don’t play fingerstyle guitar and for me what he does there is so fresh that I just can’t stop watching over and over again”.

Kemampuan Sungha Jung dalam meminkan lagu More than words dapat disimak di video berikut:

June 16, 2008

Mendadak Tari

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 4:04 pm

tari

Kalau di Indonesia ada acara televisi berjudul Mendadak Dangdut yang bertemakan penampilan para artis yang tidak mempunyai latar belakang dalam bernyanyi dangdut, maka di Fukuoka ada event Mendadak Tari. Acara Mendadak Dangdut mungkin menarik untuk disimak mengingat penampilnya adalah artis-artis yang tidak asing bagi para pemirsa, bahkan mungkin ada yang menjadi artis favorit mereka. Dengan kualitas vokal yang kadang-kadang sangat minimal (untuk tidak mengatakan sangat terbatas), namun karena dibumbui dengan penampilan yang wah, pada sisi tertentu sangat menarik. Tapi menurut saya, kejutan-kejutan yang akan ditampilkan para artis dangdut dadakan ini yang justru membuat pemirsa tetap setia menunggu penampilan para artis kesayangan mereka. Bayangkan, seorang Mandra yang mempunyai tipe suara “cempreng” dan lebih dikenal sebagai seorang artis komedi tiba-tiba menjadi bintang tamu sebagai penyanyi dangdut. Rasa penasaran untuk melihat penampilan seorang Mandra ini yang justru membuat pemirsa TV tetap bertahan untuk melihat acara ini.

Berbeda dengan acara Mendadak Dangdut, Mendadak Tari bukan acara rutin yang disiarkan secara komersial di TV. Istilah ini adalah reka-reka saya untuk menyebut salah satu pertunjukan tari yang ditampilkan pada event Peringatan 50 tahun Hubungan Indonesia-Jepang (PHIJ50) pada tanggal 7 Juni 2008 yang lalu di Fukuoka. Acara Mendadak Tari ini memang benar-benar mendadak, karena mirip dengan acara Mendadak Dangdut. Acara ini ditampilkan oleh para personil yang tidak secara serius berprofesi sebagai penari. Yang membedakan dengan acara Mendadak Dangdut mungkin karena penampil pada acara Mendadak Tari ini adalah bukan para artis terkenal dan acara ini bukan merupakan acara TV komersial. Namun buat saya pribadi yang kebetulan turut berpartisipasi menjadi penari, acara ini mempunyai makna yang sangat dalam. Sebagai seorang yang tidak mempunyai pengalaman menari sebelumnya (mungkin sekali saja waktu pentas tari Poco-poco pada acara Uminonalamichi beberapa minggu yang lalu) adalah sesuatu yang sangat mengesankan bisa tampil pada acara fenomenal PHIJ50 yang hanya terjadi 50 tahun sekali ini di Fukuoka Jepang. Bisa tampil di panggung pertunjukan (event hall) di Across Fukuoka Building, gedung yang buat orang Fukuoka sendiri merupakan gedung pertunjukan yang prestisius, serta ditonton oleh para pejabat dari KBRI di Jepang, beberapa pejabat di Fukuoka serta sekitar 70 masyarakat Jepang dan Internasional, merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga dan mengessankan.

Acara Mendadak Tari ini memang berawal dari ide yang bisa dibilang mendadak juga. Ide ini berawal dari rencana Pak Imam sebagai Ketua Panitia PHIJ50 untuk tampil sendiri menarikan Tarian Kuda Kepang (Jaranan). Saya sebagai Koordinator Acara waktu itu berpikir, dengan panggung yang begitu luas, penonton yang ditargetkan jumlahnya lenih dari 600 orang, serta akan direkam oleh stasiun TV lokal JCOM, maka akan terlihat kurang meriah apabila Pak Imam hanya menampilkan tarian tunggal. Alangkah baiknya apabila pertunjukan tari ini lebih bersifat kolosal, sehingga lebih meriah. Ide ini kemudian saya diskusikan dengan Pak Imam dan beberapa teman yang lain. Ide ini bergulir dan dengan susah payah saya berusaha merekrut beberapa teman untuk bergabung. Akhirnya komposisi penari pendukung terbentuk. Tetapi pada latihan pertama, ada personil yang akhirnya mengundurkan diri karena alasan kesibukan. Karena tarian ini sangat dinamis dan secara fisik berat, beberapa penari terpaksa mengundurkan diri dengan alasan tidak mampu. Pergantian personil ini terjadi beberapa kali hingga akhirnya terbentuk formasi akhir dengan penari utama Pak Imam, dan penari pendukung: saya, Anjas, Adi SP, Nanang, Luki dan Hadju. Karena kepiawaian Pak Imam yang pernah menari beberapa tahun yang lalu akhirnya koreografi tarian untuk penari pendukung berhasil diciptakan hanya beberapa minggu sebelum dipentaskan.

Tarian Kuda Kepang merupakan tarian Jawa Tengah (atau Jogja) diadaptasi dari Jathilan Jawa. Dengan penari yang membawa jaran kepang (kuda-kudaan yang terbuat dari kepang atau gedek), tarian ini sangat dinamis. Dengan koreagrafi baru (karena ada penambahan penari pendukung), tarian ini menceritakan tentang pasukan berkuda yang sedang berlatih formasi perang. Dipimpin oleh satu komandan, pasukan ini secara kompak memperagakan formasi-formasi kesiap-siagaan ketika akan menghadapi musuh. Dengan durasi tarian selama 11 menit lebih, tarian ini cukup menyedot tenaga para penari, khususnya penari utama.

Menarikan tarian kuda kepang ini seperti nostalgia buat saya. Dulu sewaktu masih kecil memang saya suka melihat jathilan yang sering dipentaskan di kampung tetangga setiap hari minggu. Jathilan waktu itu sangat populer. Setiap ada pertunjukan Jathilan yang hanya dimainkan di pekarangan rumah, selalu saja dijejali oleh ratusan penonton yang datang dari berbagai penjuru kampung. Kejadian “ndadi” atau kesurupan adalah yang paling ditunggu-tunggu oleh penonton. Kalau penari sudah kesurupan, biasanya gerakannya tidak terkontrol dan sangat bertenaga. Dengan musik yang dimainkan lebih cepat dan lebih keras, penari yang sudah kesurupan mulai menunjukkan gerakan-gerakan yang lebih intensif. Jatuh, bangun, makan pecahan kaca, lari kencang sampai masuk lobang pembuangan sampah, bahkan ada yang berusaha memanjat pohon kelapa. Saya ingat betul biasanya sesampai di kampung kami sehabis menonton Jathilan, teman-teman saya sering menirukan tarian dengan memegang pelepah daun pisang sebagai perwujudan kuda kepang. Mereka sering kali berpura-pura “ndadi”, menari sambil menutup mata. Saya biasanya hanya menonton saja, sambil malu-malu kadang-kadang saya ikut-ikutan menari juga. Tapi, tanggal 7 Juni kemarin, dengan mantap dan tanpa rasa malu saya telah berhasil menarikan tarian Kuda Kepang. Tarian yang puluhan tahun lalu sempat menjadi tontonan favorit saya. Tarian yang dulu saya mainkan dengan malu-malu dengan pelepah daun pisang, hari Sabtu yang lalu saya pentaskan di tempat yang sangat prestisius di Fukuoka. Sungguh pengalaman yang sangat luar biasa……

50 tahun hubungan Indonesia-Jepang

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 2:48 pm

PHIJ50

Lima puluh tahun memiliki makna yang mendalam dalam kehidupan manusia. Dalam suatu bahtera kehidupan pernikahan, lima puluh tahun sering ditandai sebagai ulang tahun emas. Ya memang lima puluh tahun merupakan waktu yang panjang bagi ikatan perkawinan antar dua manusia. Maka wajar apabila ulang tahun penikahan ke-50 sering dirayakan secara special.

Lima puluh tahun juga memiliki makna khusus bagi pertalian hubungan antar Negara. Saya yakin banyak di antara kita yang tidak tahu bahwa tahun ini merupakan tahun emas bagi Indonesia dan Jepang. Ya lima puluh tahun lalu, tepatnya tahun 1958, Indonesia dan Jepang secara resmi membuka hubungan diplomatik secara resmi. Pada tahun itu, setelah “Perjanjian Perdamaian Jepang – Republik Indonesia” dan “Perjanjian Rampasan Perang Jepang – Republik Indonesia” ditandatangani dan diberlakukan, dibukalah hubungan diplomatik antara kedua negara. Tahun 2008 ini merupakan ulang tahun ke-50 atau ulang tahun emas (Golden anniversary) pembukaan hubungan diplomatik antara Jepang dan Indonesia. Golden anniversary ini dirayakan setahun penuh dari 1 Januari 2008 sampai 31 Desember 2008. Lebih dari 200 acara dan kegiatan sudah dirancang oleh Kedubes Jepang di Jakarta untuk memperingati tahun emas ini.

Tahun Persahabatan Indonesia-Jepang ini bertemakan “Menuju ke Setengah Abad Baru”, bertujuan memperluas pertukaran antara rakyat kedua negara dan memperdalam saling pengertian antar generasi. Selama “Tahun Persahabatan Indonesia-Jepang”, menurut rencana akan diselenggarakan pertukaran di berbagai bidang luas yang mencakup pendidikan, ekonomi, sains dan teknologi, kebudayaan, kesenian, olahraga dan pertukaran rakyat; dengan penekanan pada bidang pendidikan, Kebudayaan dan pertukaran di tingkat akar-rumput, dan ekonomi (perdagangan, investasi, sains dan teknologi, pariwisata, dll.).

Selama lima puluh tahun, hubungan diplomatik Indonesia – Jepang telah memberikan banyak manfaat bagi kedua belah pihak. Hubungan dan kerjasama kedua Negara mencakup semua bidang dan telah berkembang dari tahun ke tahun. Sektor ekonomi merupakan bidang yang paling bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dalam bidang ini, Jepang mampu mensuplai teknologi dan keuangan yang sangat diperlukan untuk mengembangakan dan mengelola kekayaan alam Indonesia serta menciptakan lapangan kerja. Selama ini pula pemerintah Jepang telah menjadi partner paling utama bagi Indonesia untuk menyediakan ”development assistance” mencapai US$37 billion (tahun 2006), meliputi pinjaman lunak, bantuan dan ”technical assistance”. Jepang juga merupakan partner dagang terbesar bagi Indonesia. Pelaku bisnis Jepang merupakan investor luar negeri terbesar bagi Indonesia dalam sektor non migas.

Bagi warga Persatuan Pelajar Indonesia di Fukuoka (PPIF), 50 tahun hubungan Indonesia – Jepang ini juga memiliki makna khusus. Untuk memperingati dan merayakan tahun emas persahabatan ini, pada tanggal 7 Juni 2008 yang lalu telah diselenggarakan event besar (terbesar dalam sejarah event yang diselenggarakan oleh PPIF), yaitu Peringatan 50 tahun Hubungan Indonesia-Jepang (PHIJ50). PHIJ50 ini dikemas dalam bentuk pertunjukan seni dan budaya dengan tema ”Indonesia Bamboo Concert”. Diselenggarakan di Fukuoka Accross Building, salah satu gedung yang memiliki event hall prestisius di Fukuoka, acara yang didukung oleh Kyudenko (perusahaan listrik di Kyushu) serta KBRI Jepang di Tokyo ini menyajikan berbagai pertunjukan seni dari Indonesia dan Jepang.

Pementasan pertama adalah fashion show yang menampilkan busana daerah Indonesia, yaitu dari Sumatera Barat, Sumatera Utara, Lampung, Betawi, Jawa Tengah, Yogyakarta, Kalimatan Timur, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Timur dan Papua. Penampil fashion show ini terdiri dari warga Indonesia, Jepang, Vietnam, Kamboja, dan Amerika. Acara kedua adalah Tarian Kuda Kepang yang berasal dari Jawa Tengah. Tarian ini dibawakan oleh tujuh warga PPIF, terdiri dari satu penari utama dan enam penari pendukung. Acara ketiga adalah penampilan musik angklung yang dimainkan oleh kelompok lagu Kai dari Jepang dan warga PPIF, dengan menampilkan lagu Jawa Timur Rek-ayo rek. Selanjutnya adalah penampilan kelompok musik bambu Nakagawa (Nakagawa Bamboo orchestra) dengan menampilkan dua lagu Jepang. Dilanjutkan dengan penampilan kolaborasi musik angklung yang dibawakan oleh kelompok lagu-lagu Kai dari Jepang dan PPIF dengan Nakagawa Bamboo Orchestra. Penampilan ini menyajikan lagu Sen no kaze ni natte dan Nada sou sou. Penampilan kolaborasi ini mampu menarik perhatian penonton dan mendapat apresiasi yang luar biasa. Acara diakhiri dengan penampilan kelompok Indah Putri, yaitu kelompok musik angklung yang dimainkan oleh tiga orang perempuan Jepang, yang telah dibina oleh KBRI Tokyo selama puluhan tahun.

Meskipun pada tahun ini masih ada dua event kesenian besar yang akan diikuti oleh PPIF, tapi bisa dibilang PHIJ50 merupakan klimak dari serangkaian event-event yang telah dilakukan. Ya….PHIJ50 merupakan bukti perjuangan teman-teman PPIF dalam rangka memperkenalkan dan mempopulerkan seni tradisional Indonesia di luar negeri. PHIJ50 yang telah disiapkan sejak bulan Januari 2007 telah berhasil dengan sukses, dengan penonton yang melebihi kapasitas gedung, serta mendapat apresiasi yang luar biasa dari penonton. Telah banyak tenaga, pikiran, waktu dan biaya pribadi yang dikeluarkan oleh panitia dan penampil acara. Semua ini dilakukan secara tulus dan ikhlas untuk menjunjung martabat bangsa Indonesia di mata dunia internasional melalui kesenian.

Berikut ini adalah cuplikan acara PHIJ50 yang direkam oleh JCOM, salah satu TV lokal di Fukuoka.

Blog at WordPress.com.