Purnama`s virtual notes

July 29, 2008

Huis Ten Bosch: sebuah kota Belanda di negeri Matahari Terbit

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 12:47 pm

Pagi itu jam 9, Minggu 20 Juli 2008, dua bus berisi rombongan anggota PPIF dan keluarga meluncur dari dormitori mahasiswa internasional, Kyushu University di Kashiihama. Wajah mereka terlihat ceria, meskipun ada beberapa pelajar laki-laki yang terlihat mengantuk karena habis kerja di pagi buta. Suasana begitu gembira dihiasi canda dan tawa penumpang bus. Kegembiraan ini terasa lebih lengkap karena terdengar suara anak kecil di setiap penjuru ruang dalam bus. Ada yang teriak-teriak, ada yang merengek-renget minta makanan kecil, ada yang bersenda gurau dengan orang tuanya, dan ada juga yang diam seribu bahasa larut dalam keasyikan bermain PS2. Yaah….suasana yang sangat khas ke-Indonesiaan-nya: suara riuh anak-anak…… Hmm… saya pernah bercerita tentang hal ini pada teman saya, bahwa di manapun berada, kehadiran komunitas pelajar Indonesia di luar negeri akan selalu mudah dikenali karena keberadaan anak kecil yang banyak jumlahnya….di manapun…….. Yah.. pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat memang merupakan salah satu ciri khas negara berkembang.

Hari itu lebih dari seratus warga Indonesia yang ada dalam dua bus itu benar-benar merasakan kegembiraan. Bagaimana tidak…..? Pagi itu mereka akan pergi ke Huis Ten Bosch, salah satu kota di negeri Belanda secara gratis! Seperti tahun-tahun sebelumnya, Kyudenko (Perusahaan Listrik Kyushu) selalu men-sponsori perjalanan wisata bagi warga PPIF. Dan tahun ini, kesempatan itu diberikan lagi oleh Kyudenko, jalan-jalan ke Huis Ten Bosch di Nagasaki. Karena keberhasilan penyelenggaraan event PHIJ50 pada bulan Juni lalu, Kyudenko memberikan hadiah jalan-jalan gratis ini kepada semua warga PPIF. Seratus tiket passport (terusan) serta transportasi gratis disediakan oleh Kyudenko bagi seluruh warga PPIF dan keluarga. Ini merupakan salah satu wujud kepedulian Kyudenko terhadap para pelajar asing di Fukuoka, khususnya pelajar Indonesia.

Jalan-jalan di salah satu kota negeri Belanda di Jepang….? “Ah… aya aya wae…” begitu respon teman saya kalau mendengar hal yang mustahil.

Bagi orang Jepang, khususnya penduduk di wilayah Fukuoka, mereka dapat menjumpai suasana kota Belanda bernama Huis Ten Bosch di Nagasaki Prefecture. Huis Ten Bosch di Nagasaki ini adalah replika kota Huis Ten Bosch di Belanda. Huis Ten Bosch yang bermakna “House in the forest” ini meliputi area seluas 152 hektar, dibangun pada tahun tanggal 25 Maret 1992 dan selesai dalam lima tahun. Huis Ten Bosch terletak di pinggir laut, dan menempati daerah reklamasi pantai, yang sebelumnya merupakan daerah yang tidak subur. Kota wisata ini dibangun sebagai pertanda hubungan perdagangan yang sangat “fruitfull” yang diawali oleh kedatangan kapal dari Belanda bernama De Liefde pada tahun 1600-an, dan menjadikan kota Nagasaki sangat makmur pada periode Meiji (akhir abad 19). Dengan support dari pemerintah Belanda dan perusahaan-perusahaan Jepang, proyek pembangunan Huis Ten Bosch dapat direalisasikan.

Setelah sempat istirahat sekitar 20 menit di perjalanan, akhirnya sekitar jam 11:45 bus yang membawa warga PPIF sampai di Huis Ten Bosch. Bus melaju pelan memasuki lapangan parkir Huis Ten Bosch. Beberapa saat kemudian pengunjung keluar bus dan wuuih… udara yang sangat panas menyambut kedatangan kami. Menurut cerita teman-teman yang sudah beberapa tahun di Fukuoka, musim panas tahun ini terasa lebih panas dari tahun-tahun sebelumnya. Kehadirannya pun agak terlambat.

Setelah foto-foto bersama semua warga PPIF, kami segera berhamburan tanpa terkoordinasi masuk ke Huis Ten Bosch. Begitu mendekati pintu masuk utama pengunjung mulai disuguhi oleh lingkungan bernuansa Belanda, didominasi oleh pemandangan bangunan-bangunan khas Belanda. Bangunan khas Eropa yang didominasi oleh dinding dari batu bata merah maupun coklat tua sangat itu sangat mencolok terlihat di setiap penjuru kota ini. Di beberapa tempat terbuka terlihat kincir angin khas Belanda, besar dan berwarna gelap. Tiap kincir angin terdiri atas empat baling-baling raksasa yang ditopang oleh bangunan berbentuk oval, terletak di tengah lahan terbuka yang ditumbuhi beraneka warna bunga. Suasana harmonis tercipta dengan kehadiran sungai yang lebar dan jernih yang membelah kota ini. Beberapa perahu terlihat dipenuhi pengunjung yang hilir mudik menyusuri sungai ini, melintasi setiap sudut kota yang tertata asri. Perahu ini bentuknya klasik khas perahu sungai di Eropa, bertenaga mesin dan dapat mengangkut puluhan penumpang. Dengan ruangan ber-AC, perjalanan dengan perahu ini terasa sangat nyaman. Di sepanjang perjalanan terlihat beberapa angsa dan bebek bergerombol di beberapa tempat, menambah keserasian lingkungan. Satu ciri khas dari Belanda yang tidak terlihat adalah bunga tulip. Yah…bunga tulip yang merupakan maskot negeri Belanda tidak tumbuh pada musim panas ini. Mereka hanya berbunga pada musim semi.

Saat ini Huis Ten Bosch merupakan tempat wisata favorit bagi penduduk Jepang maupun wisatawan asing. Dalam beberapa hal, konsep pembangunan Huis Ten Bosch ini mirip dengan Taman Mini Indonesia Indah. Ada berbagai macam fasilitas yang dapat dinikmati di sana. Mulai dari museum-musem yang menampilkan koleksi benda-benda bersejarah Belanda dan Jepang, sampai tempat entertainment modern seperti bioskop 3 dimensi. Bagi yang tidak kuat jalan kaki, mereka bisa naik bus, semacam bus kota yang berkeliling kota, maupun menyewa sepeda tandem. Ada juga perahu bajak laut (Pirate ship) yang bisa dinaiki berkeliling di laut sekitar Huis Ten Bosch selama 20 menit.

Tepat pukul 17:30 kamipun harus mengakhiri kunjungan ini. Diiringi hujan gerimis, kami berlarian menuju ke bus yang sudah menanti di parkiran. Perlahan-lahan bus mulai berjalan meninggalkan Huis Ten Bosch. Sepanjang perjalanan terlihat wajah-wajah ceria warga PPIF. Sedikit kesalahpahaman mengenai mekanisme perjalanan wisata ini yang sempat terjadi beberapa minggu sebelumnya, akhirnya terbayar sudah dengan kepuasan. Tidak seramai waktu keberangkatan tadi, dalam perjalanan pulang ini para penumpang terlihat lebih tenang, mungkin karena kelelahan. Suhu panas siang tadi memang benar-benar telah menyedot tenaga kami semua. Terlihat banyak diantara kami yang mulai terlelap dalam tidur, atau setidaknya sekedar memejamkan mata untuk beristirahat. Di dalam pikiran mereka telah terekam berjuta memori kesan-kesan perjalanan di Belanda. Kamera yang telah dipenuhi fotopun sudah dimasukkan kembali ke dalam tas. Pada saatnya nanti, memori dalam kepala dan foto-foto dalam memory card ini akan menjadi sebuah cerita untuk sahabat dan keluarga.

July 26, 2008

UGM peringkat 74 di Asia

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 2:29 pm

Bulan ini Webometric kembali merilis peringkat universitas di dunia. Pemeringkatan yang dilakukan dua kali setahun ini menempatkan UGM di urutan 74 untuk wilayah Asia, masih tertinggi di Indonesia, meskipun turun dari peringkat 57 bulan Januari 2008 lalu. Untuk seratus besar Asia ini, UGM ditemani oleh ITB yang menempati posisi 78. Aneh memang, tidak ada universitas di Indonesia selain UGM dan ITB yang mampu lolos di 100 besar Asia. Di rangking dunia UGM menempati posisi 816 sementara ITB di posisi 826.

Untuk wilayah Asia, peringkat teratas masih didominasi oleh universitas-universitas di Jepang dan China (termasuk Hongkong dan Taiwan).

Selamat untuk UGM dan ITB! Terus tingkatkan prestasimu.

Berikut ini adalah daftar peringkat universitas di Asia:

1 University of Tokyo

2 National Taiwan University

3 Kyoto University

4 National University of Singapore

5 Beijing University

6 Chinese University of Hong Kong

7 University of Hong Kong

8 Keio University

9 University of Tsukuba

10 Tsinghua University China

Peringkat 11 sampai 100 besar universitas di Jepang dan Indonesia:

13 Nagoya University

14 Osaka University

15 Tohoku University

18 Tokyo Institute of Technology

26 Kyushu University

29 Kobe University

35 Ritsumeikan University

37 United Nations University

41 Hiroshima University

52 Tokyo University of Science (Note 29)

53 Japan Advanced Institute of Science & Technology

58 Hosei University

59 Waseda University

63 University of Electro-Communications

65 Nara Institute of Science & Technology

67 Doshisha University

69 Yamagata University

71 Okayama University

73 Tokai University

74 Gadjah Mada University

77 Ryukoku University

78 Institute of Technology Bandung

79 Nihon University

80 Shinshu University

81 Gunma University

83 Niigata University

87 University of Tokushima

90 Mie University

91 Meiji University

93 Chiba University

96 Nagaoka University of Technology

99 Gifu University

July 24, 2008

Rahasia panjang umur orang Jepang

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 10:17 am

Buat banyak orang, rahasia panjang umur orang Jepang mungkin masih menjadi teka-teki. Lihat posting ini. Berikut ini adalah rahasia sehat orang Jepang, khususnya penduduk Pulau Okinawa yang terletak di Jepang paling selatan, diungkap oleh Dr. Bradley dalam sebuah bukunya. Semoga bermanfaat.

————————————-

Dr Bradley J Willcox dalam bukunya, The Okinawa Diet Plan: Get Leaner, Live Longer and Never Feel Hungry, mengatakan, diet Okinawa dapat mengatasi kegemukan, membuat perasaan lebih nyaman, dan awet muda.
Okinawa merupakan nama sebuah pulau di Jepang. Nama pulau ini begitu terkenal karena memiliki jumlah penduduk berusia lebih dari 100 tahun terbanyak di dunia. Data menunjukkan, dari sekitar 1,27 juta jiwa, terdapat 427 warga Okinawa yang berusia lebih dari 100 tahun! Penduduk Okinawa juga memiliki usia harapan sehat tertinggi di dunia.

Rahasia sehat, panjang umur, dan awet muda mereka terletak pada pola makan dan gaya hidup sehari-hari yang sangat khas. Pola makan mereka hampir sama dengan Anda, bedanya mereka sangat membatasi mengonsumsi lemak dan protein hewani.
Prinsip makan yang mereka anut adalah mengonsumsi karbohidrat, lemak, dan protein yang tepat. Ini prinsip diet mereka:
- Sayur dan buah
Buah dan sayur yang mengandung serat merupakan menu wajib setiap hari. Fungsi serat membantu mencegah penimbunan lemak, membantu meningkatkan fungsi usus-usus besar, dan membantu proses pembentukan otot.
- Merah lebih baik dari putih
Asupan karbohidrat mereka berasal dari beras merah bukan beras putih. Sebab, beras putih sudah mengalami proses pembersihan yang berulang sehingga kandungan vitaminnya berkurang.
- Serba kacang
Jenis kacang yang paling banyak mereka konsumsi adalah kacang kedelai, baik dalam bentuk polong rebus maupun olahan, seperti miso, tahu, dan kembang tahu. Sup miso dengan campuran bayam dan nasi menjadi menu pembuka mereka di pagi hari.
- Ikan laut yang terbaik
Protein dan lemak hewani mereka peroleh dari ikan. Ikan laut memiliki keunggulan mengandung asam lemak omega 3 yang lebih tinggi kadarnya dibandingkan ikan air tawar.
- Banyak minum air putih
Penduduk Okinawa sangat sedikit mengonsumsi alkohol. Mereka terbiasa minum air putih minimal enam gelas sehari. Cairan sangat penting untuk mendukung kelancaran metabolisme dan reaksi kimia dalam tubuh.

- Teh hijau Teh hijau minuman favorit mereka. Khasiat teh hijau erat kaitannya dengan senyawa katekin dan flavonol, yaitu suatu komponen aktif yang diyakini berperan penting mencegah kanker. Dari 10 gram bubuk teh hijau (setara dengan 10 cangkir teh), akan diperoleh sekitar 1 gram katekin. Prof Itaro Oguni dari Universitas Shizuoka Hamamatsu College menganjurkan minum 10 cangkir teh setiap hari secara teratur untuk mencegah kanker.
- Membatasi minyak
Diet Okinawa juga membatasi mengonsumsi minyak nabati dan hewani. Jenis asam lemak yang dominan dikonsumsi adalah asam lemak tak jenuh tunggal yang dapat diperoleh pada minyak canola dari biji-bijian. Hal ini dapat mencegah timbunan kolesterol dan trigliserida berlebih penyebab timbulnya berbagai penyakit.
- Sedikit garam dan penyedap
Pelaku diet Okinawa dianjurkan untuk tak berlebihan mengonsumsi garam. Disarankan pemakaian garam rata-rata hanya tiga sendok teh sehari.
- Hindari makanan olahan
Hindari mengonsumsi camilan yang berlemak serta mengandung kadar garam dan penyedap rasa tinggi. Sebagai gantinya, pilihlah camilan yang aman, seperti buah, sereal, atau roti gandum. Sedapat mungkin tidak mengonsumsi makanan olahan yang dibuat dengan penambahan bahan-bahan kimia.
- Berhenti sebelum kenyang
Makan hingga perut terasa penuh, bahkan sampai menyebabkan tak dapat bergerak karena kekenyangan sangat tidak disarankan diet Okinawa. Makan dan minumlah hingga 80 persen kenyang. Prinsip itulah yang menyebabkan mereka memiliki tubuh langsing, sehat, bugar, dan awet muda.
- Sering dan sedikit
Mereka menerapkan pola makan yang sering, tapi dengan porsi terbatas. Pola makan laki-laki 10-13 kali dan perempuan 7-10 kali setiap hari dengan takaran 150-200 cc untuk sekali makan.
- Aktivitas fisik
Diet Okinawa mengharuskan setiap pelakunya banyak melakukan aktivitas fisik, di antaranya bersepeda dan jalan kaki.
- Jauh dari stres
Rendahnya tingkat stres menjadi faktor penting tingginya kualitas kesehatan penduduk Okinawa. Kehidupan mereka sangat damai dan tenang. Piknik, bercengkerama dengan teman-teman, dan melakukan kegiatan ringan yang menyenangkan diyakini dapat menghindari seseorang dari stres. Tertarik mencoba?

Dikutip dari Kompas

July 15, 2008

Sisi lain Fukuoka: The Big ISSUE

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 6:19 pm

Setiap pagi setidaknya sekali dalam seminggu, ketika berjalan menuju halte Solaria Stage di Tenjin untuk mendapati bus menuju ke kampus, ada fenomena yang selalu menarik perhatian saya. Begitupun di sore hari, di perempatan jalan di dekat Kantor Pos Pusat Tenjin, fenomena serupa sering kali tak luput dari perhatian saya. Fenomena yang selalu mengingakan saya dengan fenomena serupa beberapa tahun yang lalu di Melbourne, antara awal 2002 sampai akhir 2004, di lokasi yang selalu memiliki ciri yang sama: perempatan jalan, pusat kota, dan pusat keramaian. Fenomena yang saya yakin buat orang lain belum tentu spesial ini memang telah memikat perhatian saya sewaktu saya di Melbourne beberapa tahun yang lalu.

Adalah “The Big Issue”, nama sebuah majalah yang dijual dengan cara yang sangat tidak lazim. Majalah ini tidak dijual di kios-kios majalah, apalagi di toko buku baik di Melbourne maupun di Fukuoka. Majalah ini dijual dengan cara yang sangat konvensional, yaitu ditawarkan kepada para pejalan kaki di pusat-pusat keramaian oleh seorang lelaki yang sudah setengah baya, dengan penampilan yang sangat sederhana (untuk tidak mengatakan di bawah standar penampilan penduduk setempat). Fenomena inilah yang telah mampu membuat rasa penasaran saya terhadap majalah tersebut selalu menyala: sebuah majalah berjudul “The Big Issue”, dipasarkan secara eksklusif konvensioanal, dijual oleh seorang lelaki setengah baya dengan penampilan sangat sederhana.

Baik di Melbourne maupun di Fukuoka, majalah yang ditawarkan kepada para pejalan kaki dengan cara berdiri di perempatan jalan kota sambil mengangkat tinggi-tinggi satu majalah dengan tanpa mengucapkan sepatah katapun, ternyata sangat jarang dihampiri oleh calon pembeli untuk sekedar melihat sekalipun, apalagi membeli. Sering kali saya merasa iba melihat orang ini begitu gigih dan sabar mencoba menjual sebuah majalah yang kurang diminati kebanyakan orang. Dari penampilannya, saya yakin mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap yang layak. Dari jasa menjual majalah inilah mereka mendapatkan sekeping uang untuk menopang kehidupan mereka. Suatu keadaan yang kontradiktif dengan kondisi kota yang penuh dengan kemakmuran dan kemewahan di setiap penjuru kota. Kota yang dipenuhi dengan warna-warni cahaya dan wanginya aroma kesejahteraan dan kemewahan itu seolah-olah melupakan dan tidak mempedulikan kehadiran mereka, warga kota yang tidak mampu merasakan nikmatnya sebuah kemakmuran di negara yang kaya raya. Sungguh sebuah ironi.

Rasa penasaran akan teka-teki di balik fenomena yang sebenarnya sangat sederhana yang belum terjawab sampai saatnya saya harus pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan studi di Melbourne beberapa tahun lalu, akhirnya kembali menyeruak di dalam pikiran saya beberapa hari terkahir ini, di Fukuoka. Sore itu hari sabtu sekitar pukul 19:00 hari memang belum gelap karena di Fukuoka sedang musim panas, di mana matahari terbenam pukul 19:34. Di sore yang panas itu, selepas turun dari bus dari kampus, saya kembali melihat satu diantara mereka yang dengan sabar tengah berusaha menjual majalah “The Big Issue” di dekat Kantor Pos Pusat Tenjin. Lelaki itu berumur sekitar 40 sampai 45 tahun, mengenakan baju flanel bermotif kotak-kotak dengan dominasi warna biru tua dikominasikan dengan celana panjang warna gelap, sepatu kets usang dan mencangklong tas lusuh yang saya yakin berisi beberapa majalah. Dia berdiri tegak tepat di samping tiang lampu kota di perempatan jalan utama dekat Kantor Pos Pusat Tenjin. Tidak seperti wiraniaga yang selalu proaktif ketika membagikan sampel produk gratis kepada pejalan kaki setiap pagi di sekitar Tenjin Station, lelaki ini terlihat sangat pasif dalam menjual dagangannya. Sambil memegang sebuah majalah, tangan kanan diangkat ke atas tinggi-tinggi agar majalah terlihat oleh setiap pejalan kaki. Tidak ada kata-kata keluar dari mulutnya, sangat kontradiktif dengan gaya marketing Jepang yang selalu mengucapkan kata-kata dengan keras untuk menarik calon pembeli. Dari sorot matanya dan raut wajahnya, saya menangkap kesan bahwa dia sangat berharap ada satu atau dua pejalan kaki yang sudi menghampirinya dan membeli satu majalah seharga 300 yen itu. Ya… 300 yen adalah harga yang sangat murah, setara dengan satu kali makan makanan sederhana kelas mahasiswa. Rasa iba kembali menghampiriku. Yah…..perasaan mudah iba dan kasihan pada orang lemah yang dengan gigih berusaha mencari rizki dengan jalan yang baik adalah salah satu kelemahanku… atau justru sebaliknya? Sore itu, rasa iba yang begitu kuat berhasil menguatkan tekad saya untuk menuntaskan rasa penasaran yang sudah sekian tahun bersemayam dalam pikiranku. Keingintahuanku tidak bisa saya tunda lagi. Saya harus mencari informasi…! begitu tekad saya waktu itu.

Begitu komputer terakses dengan internet, saya meminta bantuan teman setia saya Mbak Google untuk mencari informasi yang saya perlukan. Dalam hitungan kurang dari dua detik, teman saya dengan cekatan berhasil menghapus rasa penasaran saya akan kebutuhan informasi di balik “the Big Issue”. Satu demi satu informasi saya baca. Rasa penasaran yang sebelumnya begitu menggelayuti pikiran saya berangsur-angsur berubah menjadi rasa kagum.

“The Big Issue” adalah sebuah badan internasional yang bekerja dengan para tuna wisma (homeless people) di seluruh dunia, dari United Kingdom sampai Afrika, Asia dan Australia. Perusahaan “The Big Issue” juga bertujuan untuk mempromosikan dirinya sebagai sebuah model bagaimana sebuah usaha sosial bisa menjadi sebuah solusi bagi “homelessness” dan “social exclusion”.

Majalah “The Big Issue” pertama kali diterbitkan pada September 1991 oleh A. John Bird dan Gordon Roddick di London, UK, sebagai respon atas begitu banyaknya jumlah gelandangan di London. Ide penerbitan majalah ini berawal dari kunjungan Bird dan Roddick ke US. Mereka melihat dan terkesan dengan adanya surat kabar “Street News” di New York yang dijual oleh para tunawisma. Pada awalnya majalah ini terbit bulanan. Tapi pada tahun 1993, “The Bid Issue” terbit mingguan dan beberapa cabang regional mulai dibentuk: Scotland, Wales, The North of England, dan The South West. Sekarang “The Big Issue” telah berubah menjadi badan internasional yang mencakup UK, Australia, Japan, South Africa, Namibia dan Kenya.

Yayasan The Big Issue didirikan tahun 1995 dengan tujuan: “to complement the way the magazine works with homeless people and assist them in gaining control of their lives and achieving greater self-reliance and independence. Although financial exclusion is one of the key reasons why people remain homeless – and one of the core aims of The Big Issue is to give people a legitimate way of making a living – there are other benefits of becoming a vendor. Not only does beginning to sell the magazine provide an opportunity to access the services of The Big Issue Foundation, but also the act of having to organize themselves and their money, as well as committing to a sales pitch, teaches new skills and self reliance, which in turn builds self confidence and can be the key to moving on. The Big Issue offers social as well as financial inclusion” (The Big Issue, UK).

Di Jepang, “The Big Issue Japan” dibentuk tahun 2003, sejalan dengan visi dan misi The Big Issue pendahulunya. Setelah terbukti bahwa seseorang adalah tuna wisma, dia akan diberi sepuluh majalah seharga 140 yen setiap copinya, dan menjual ke masyarakat seharga 300 yen. Dari September 2003 sampai Mei 2007 sudah ada 644 tunawisma yang tercatat sebagai vendor untuk The Big Issue Japan, dan telah berhasil menjual 2.05 juta copi majalah dan memberi penghasilan sekitar 225.5 juta yen untuk mereka. Dari jumlah itu, sekitar 15% vendor sudah mendapat pekerjaan yang lebih permanen dan tinggal di akomodasi mereka sendiri. Saat ini ada sekitar 150 vendor yang tersebar di Sapporo, Sendai, Tokyo, Kyoto, Osaka, Kobe, Hiroshima, Fukuoka and Kumamoto. Rata-rata satu vendor mampu menjual sekitar 25 majalah dalam sehari.

The Big Issue, sebuah fenomena di kota besar yang tidak mendapatkan perhatian dan respon baik dari warga kota, ternyata merupakan sebuah bentuk usaha mulia yang cerdas untuk mengangkat harkat hidup para tunawisma. Saya yakin, membeli majalah dari mereka merupakan bentuk tindakan nyata kita untuk turut membantu meningkatkan taraf hidup mereka. Ya…. hanya dengan 300 yen dari kita, hidup mereka akan bisa lebih berwarna.

July 14, 2008

Kota terbaik di dunia

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 2:57 pm

“Are you resident in the world’s top liveable city?”

Begitulah tulisan di halaman sampul majalah “Monocle” issue 15 volume 2 edisi July/August 2008, sebuah majalah digital yang fokus pada tema-tema tentang kota dan pemukiman.

Tulisan headline “Are you resident in the world’s top liveable city?” di majalah Monocle tersebut cukup menggelitik buat. saya. Meskipun saya tidak harus menjawab pertanyaan tersebut, tapi tulisan tersebut mengingatkan saya akan pengalaman yang sangat berharga tinggal di kota yang sangat istimewa, “the liveable city of the world!”.

Tahun 2003 yang lalu kalau tidak salah, majalah Monocle mengeluarkan hasil survey tentang penilaian kota-kota di dunia. Dan pada saat itu saya merasakan menjadi orang yang sangat beruntung. Kenapa? Karena pada tahun itu Melbourne Australia, kota di mana saya menghabiskan 3 tahun masa hidup saya, mendapat peringkat nomor dua sebagai kota yang layak huni, “the second most livable city in the world!”. Dari semua aspek, bisa dibilang Melbourne adalah kota yang sangat nyaman dihuni. Ideal adalah kata yang saya pilih untuk menggambarkan betapa nyamannya kota Melbourne.

Tahun ini, Monocle kembali mengeluarkan hasil pemeringkatan terbaru, disajikan dalam artikel bertajuk: THE WORLD’S TOP 25 MOST LIVEABLE CITIES — 2008. Dalam daftar tersebut, Copenhagen menempati urutan pertama disusul oleh Munich dan Tokyo pada urutan kedua dan ketiga. Berikut adalah peringkat 1 sampai 25.

1. Copenhagen: out in front by virtue of its scale, a good airport, all those bike paths and handsome locals. Lihat Copenhagen

2. Munich: almost a winner, but it should have committed to building the Transrapid airport rail link.

3. Tokyo: the world’s best big city by far. Unfortunately, last week’s stabbing spree hasn’t done much for its public safety record.

4. Zurich: more relaxed neighbours would put it in first place.

5. Helsinki: a European capital with a foot firmly in Asia.

6. Vienna: one of Europe’s greenest cities.

7. Stockholm: the city wants to go vertical ­– a tricky mission.

8. Vancouver: the best of North America in a beautiful frame.

9. Melbourne: the best neighbourhoods in the southern hemisphere.

10. Paris: its visionary mayor has made the old dame internationally relevant again.

11. Sydney

12. Honolulu

13. Madrid

14. Berlin

15. Barcelona

16. Montreal

17. Fukuoka

18. Amsterdam

19. Minneapolis

20. Kyoto

+ 21. Hamburg, 22. Singapore, 23. Geneva, 24. Lisbon, 25. Portland.

Peringkat untuk tahun 2007 dan 2006 dapat dilihat di link ini;

Tahun ini, kembali kesempatan berharga untuk tinggal di kota terbaik di dunia diberikan kepada saya. Fukuoka, sebuah kota berbudaya asia yang terletak di pulau Kyushu, Jepang. Tahun 2008 ini Fukuoka menempati peringkat 17 untuk kategori “liveable city”, begitu pula masuk dalam shortlist untuk kategori “best retail city”, meskipun tidak jelas perinkat nomor berapa. Berikut cuplikan dari Majalah Japan Times

“LONDON (Kyodo) Fukuoka has been voted the best place in the world for shopping and one of the most livable locations, according to a survey by a leading international culture and design magazine……………

…………………….Fukuoka is a new entry from last year’s list, but Monocle judged that the city lives up to the media-generated hype. Fukuoka also picked up the award for “best retail city” in the shortlist. The magazine said, “It has all the advantages of a big city — excellent shopping, outstanding food, good transport links — with all the coziness of a smaller, provincial town. Friendly, safe and clean, its proximity to East Asia — Shanghai is closer than Tokyo — Fukuoka is one of the most cosmopolitan cities in Japan,” the magazine said.

In terms of “Monocle Fix,” the magazine would like to see a route to the West Coast of the United States. The magazine said the compact shopping district of Tenjin in downtown Fukuoka features all the big labels and attracts visitors from South Korea and China.

“Public transport runs with digital precision, people are mindful of others, and the crime rate is low.”

Untuk kategori “liveable city”, jika dibandingkan, secara subyektif saya akan mengatakan bahwa Melbourne masih lebih baik dibandingkan dengan Fukuoka, khususnya untuk dua kriteria. Dari sisi transportasi menurut saya Melbourne memiliki sistem transportasi yang sangat sistematis dan mudah diakses. Pembagian sistem pelayanan antara tram, bus dan kereta memberikan jangkauan pelayanan transportasi yang baik dan menyeluruh. Dari sisi bahasa jelas Melbourne sangat nyaman untuk orang asing atau pendatang baru dengan menggunakan bahasa Inggris. Khusus untuk muslim, kota Melbourne jauh lebih baik dari Fukuoka, di mana banyak komunitas muslim berasal dari Middle East seperti dari Turki dan Lebanon bermukim di sana. Masjid dan makanan halal (daging halal) bisa ditemukan dengan mudah, sehingga kegiatan beribadah umat islam bisa terfasilitasi dengan baik. Berbeda dengan Fukuoka, di mana bahasa Jepang dengan huruf kanji merupakan bahasa utama, dan minimnya penggunaan bahasa Inggris di area publik serta rendahnya kemampuan berbahasa Inggris warganya, membuat orang asing yang tidak bisa berbahasa Jepang merasakan keterisolasian yang luar biasa, karena merasa menjadi tuna aksara, tuna rungu dan tuna wicara. Namun dari sisi keamanan, memang Fukuoka lebih baik dari Melbourne.

Meskipun dari beberapa kriteria penilaian tidak ada kota di Indonesia yang masuk dalam daftar kota terbaik, buat saya Jogjakarta masih tetap menempati rangking pertama untuk tempat tinggal. Seperti ungkapan “home sweet home”, Jogjakarta dalam beberapa hal merupakan kota terbaik di dalam hati saya. Ada kedekatan emosional yang kuat antara saya dengan Jogjakarta sehingga saya mampu merasakan kenyamanan yang seutuhnya ketika berada di Jogjakarta. Di sanalah ruh dan jiwa saya merasakan kedamaian yang sebenarnya. Rasa yang tidak bisa saya temukan di kota-kota terbaik di dunia sekalipun.

July 1, 2008

Selamat jalan Sang Mayor

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 3:39 pm

Karena sudah terbiasa dengan berita-berita tentang kecelakaan pesawat di Indonesia, berita di internet tentang musibah kecelakaan pesawat TNI AU Cassa 212 dengan nomor seri A2106 di wilayah Bogor Jawa Barat hanya saya baca sambil lalu saja. Ya…. karena terlalu banyak berita kemalangan terjadi di Indonesia, seakan-akan membuat berita kecelakaan seperti ini tidak terlalu menarik untuk disimak lebih mendalam. Sudah terlalu biasa… dan mungkin membuat perasaan ini tidak terlalu sensitif lagi….

Tapi, Jum`at malam itu sambil menunggu jadwal bus untuk pulang ke rumah, saya tergelitik juga untuk membaca berita kecelakaan pesawat Cassa ini lebih lengkap. Maklum karena berita ini terlalu mendominasi pemberitaan di website. Iseng-iseng saya klik link di website yang mengarahkan ke informasi mengenai korban dalam musibah itu. Ada delapan belas korban dalam musibah itu, dan satu persatu saya baca dari atas ke bawah. Begitu terkejutnya saya dan tubuh ini serasa merinding membaca daftar koran nomor 5 dalam daftar penumpang: Mayor Sus Susika Murdayanti. Dengan tergesa-gesa saya segera membuka milis grup alumni Teknik Geodesi UGM. Dan benar….di situ sudah banyak postingan ucapan bela sungkawa atas kecelakaan yang menimpa rekan dan senior saya di Jurusan Teknik Geodesi UGM, Mayor Susika Murdayanti, serta junior dan mantan mahasiswa saya angkatan tahun 1999 saudara Amy Muharram. Inna lillahi wa innailaihi roojiun.

Hari itu, perasaan dan pikiran saya kembali diguncang oleh berita kemalangan yang menimpa sahabat dan senior saya. Mayor Susika Murdayanti adalah alumni Jurusan Teknik Geodesi UGM, dua tahun di atas saya. Mengabdi di jajaran TNI AU di divisi pemetaan udara begitu lulus kuliah. Meskipun di UGM dia adalah senior saya, tapi selama studi di Melbourne University dia adalah junior saya, dan meraih Master of Applied Science dari Deparment of Geomatics. Kepandaiannya telah membawa dia berkunjung ke beberapa negara melaksanakan tugas negara.

Rasanya belum terlalu lama perasaan ini terguncang oleh meninggalnya sahabat terbaik saya Eko Sarjanto Eko Sarjanto ; dan Utantyo Wuryatmo beberapa waktu yang lalu. Dan hari itu, kembali saya disadarkan kembali oleh kenyataan bahwa usia seseorang adalah milik Allah, yang tetap menjadi rahasiaNya. Tiada seorangpun tahu kapan rahasia itu akan dibukakan pada kita. Allah tidak akan menunggu kita siap untuk dipanggil ke hadapanNya. Kapanpun, di manapun, dalam kondisi apapun, Allah akan dengan mudah mencabut nyawa kita tanpa kita sadari sebelumnya. Tak ada seorangpun akan merasa siap untuk yang satu itu….menghadap Sang Khalik.

Selamat jalan sahabatku….., seniorku,….. Sang Mayor Susika Murdayanti. Selamat jalan adikku Amy Muharram. Semoga arwah kalian diterima di sisiNya dan diampuni semua dosa-dosamu.

———————————————

Andai ku tahu

by Ungu

Andai ku tahu
Kapan tiba ajalku
Ku akan memohon
Tuhan tolong panjangkan umurku

Andai ku tahu
Kapan tiba masaku
Ku akan memohon
Tuhan jangan kau ambil nyawaku

Aku takut akan semua dosa-dosa ku
Aku takut dosa yang terus membayangiku

Andai ku tahu
Malaikat-Mu kan menjemputku
Izinkan aku
Mengucap kata taubat pada-Mu

Aku takut akan semua dosa-dosa ku
Aku takut dosa yang terus membayangiku

Ampuni aku dari segala dosa-dosa ku
Ampuni aku menagisku bertaubat pada-Mu

Aku manusia yang takut neraka
Namun aku juga tak pantas di surga

Andai ku tahu
Kapan tiba ajalku
Izinkan aku
Mengucap kata taubat pada-Mu

Blog at WordPress.com.