Disyahkannya UU BHP telah menuai banyak kritik dan protes dari masyarakat, khususnya para mahasiswa di berbagai daerah. Dengan disyahkannya UU ini dikhawatirkan kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia tidak akan pro-rakyat lagi dengan meningkatnya biaya pendidikan dan semakin mendorong komersialisasi pendidikan tinggi.
Bantahan akan tuduhan miring masyarakat terhadap UU BHP dilontarkan oleh DPR dan pemerintah. Ketua Komisi X DPR membantah akan terjadinya kenaikan biaya pendidikan. Dia mengatakan bahwa justru biaya kuliah akan turun dengan UU yang baru ini. Sementara Menteri Pendidikan justru membantah bahwa UU BHP akan mendorong komersialisasi pendidikan tinggi.
Berikut berita terkait dari Republika.co.id
—————————–
DPR : Biaya Kuliah Turun
JAKARTA — Ketua Komisi X DPR yang membidangi pendidikan, Irwan Prayitno, menjamin biaya kuliah akan turun dengan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP). Mantan ketua Panitia Khusus RUU BHP ini menilai orang-orang yang memprotes belum membaca dan memahami UU BHP secara menyeluruh.
”Bagaimana biaya kuliah mahal kalau biaya investasi (uang masuk, uang pangkal, dan lain-lain–Red) ditanggung negara, dua pertiga biaya operasional ditanggung negara, dan ada klausul yang mengharuskan perguruan tinggi merekrut 20 persen mahasiswa miskin?” katanya kepada Republika di Jakarta, Senin (22/12).
Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo, juga menilai banyaknya protes dan unjuk rasa karena belum tahu draf terakhir UU BHP. ”Saya duga, banyak yang belum tahu versi terakhir. Tidak benar RUU BHP yang disahkan 17 Desember melegalisasi komersialisasi pendidikan,” katanya di Yogyakarta, kemarin.
Bambang mengatakan UU BHP telah menegaskan bahwa BHP adalah institusi nirlaba. Jika ada kelebihan sisa hasil usaha (SHU), dikembalikan ke institusi pendidikan untuk meningkatkan mutu atau kapasitas pelayanan pendidikan. ”Yang memperkaya diri sendiri akan dikenai hukuman pidana lima tahun dan denda Rp 500 juta.”
Tapi, Bambang mempersilakan bila memang UU itu tetap didemo atau diuji materiil ke Mahkamah Konstitusi (MK). ”Silakan,” katanya. Demonstrasi menolak UU BHP sampai kemarin masih terjadi di berbagai daerah antara lain di Malang, Surabaya, Semarang, dan Nanggroe Aceh Darussalam.
Turunnya biaya kuliah ke depan, kata Irwan, dapat digambarkan dengan rumus: SPP BHP = SPP BHMN/sekarang – dana investasi – dana lain-lain – dua pertiga biaya operasional. Jika dulu biaya kuliah Rp 3 juta, dengan rumus itu, Irwan mengatakan, ”Akan dikurangi biaya investasi Rp 1 juta, sehingga tinggal Rp 2 juta. Kemudian, dikurangi biaya lain-lain Rp 500 ribu, sehingga tinggal Rp 1,5 juta. Lalu, dipotong biaya operasional dua pertiga dari Rp 1,5 juta itu. Jadi, tinggal Rp 500 yang nanti dibayar.”
Yang lebih menjamin UU BHP pro-orang miskin, kata Irwan, adalah adanya klausul yang mengharuskan perguruan tinggi merekrut 20 persen mahasiswa miskin dan langsung diberi beasiswa. ”Sekarang ini, total mahasiswa miskin di perguruan tinggi hanya lima persen dan saat masuk mereka harus sibuk cari beasiswa. Sekarang tidak lagi.”
Karena ketentuan-ketentuannya yang sudah sangat pro-poor itu, Irwan mengatakan fraksi-fraksi di DPR bulat menyetujui RUU BHP untuk disahkan menjadi UU. ”Kalau membaca draf awal pemerintah, memang mengandung banyak unsur komersial. Tapi, saat sampai di DPR, banyak yang kita delete,” katanya.
Setelah kebutuhan anggaran di-exercise dengan dana pendidikan Rp 200 triliun di APBN, Irwan mengatakan SPP di sekitar 50 perguruan tinggi yang totalnya Rp 5 triliun, bisa ditutupi. Sebenarnya, kata Irwan, bisa saja pendidikan tinggi digratiskan. Tapi, itu dinilai tidak adil. ”Jadi, kita bikin yang mampu tetap bayar, yang miskin gratis.”
Kalangan yang membayar pun, kata Irwan, kelak bertingkat-tingkat, sesuai kemampuan. ”Bisa ada mahasiswa yang membayar Rp 100 ribu dan ada yang membayar Rp 10 juta,” katanya.

Christine Collins (diperankan oleh Angelina Jollie) adalah seorang single parent atas sorang anak laki-laki berusia 9 tahun bernama Walter Collins, tinggal di Los Ageles, USA. Meskipun menjadi seorang single parent, kedua ibu dan anak ini terlihat bahagia menjalani hari-hari mereka. Christine adalah seorang supervisor pada sebuah perusahaan telekomunkasi yang sedang berkembang pesat, sementara Walter adalah murid sekolah dasar.
Setiap kali ada liburan panjang, baik liburan sekolah maupun liburan hari besar, lalulintas Jogja selalu dipadati oleh bus-bus dan mobil pribadi berplat luar kota. Buat warga kota Jogja, terutama mereka yang tidak terlibat langsung dalam urusan bisnis wisata atau tidak secara langsung mendapatkan keuntungan dari industri wisata, sering kali kondisi ini menimbulkan ketidaknyamanan. Lalulintas yang macet, terutama di ruas-ruas jalan seputar kota, selalu membuat perjalanan tidak nyaman. Tetapi di sisi lain, kondisi ini tentu merupakan berkah bagi para pelaku bisnis wisata, karena dari industri wisata inilah mereka dan pemda Kota Yogyakarta mendapatkan pemasukan.
Pagi itu hari sabtu suhu udara terasa menusuk kulit. Bus yang menuju Kyushu University Ito Kampus masih lima belas menit lagi. Daripada kedinginan karena terpaan angin di halte yang terbuka, saya memutuskan untuk sedikit masuk ke lorong di bawah gedung Solaria Stage. Meskipun daerah itu relatif masih terbuka, tapi setidaknya terpaan angin tidak sekuat di halte bus. Sambil berdiri di pinggir lorong, pandangan mata saya tertuju ke arah seorang gelandangan, berjaket merah, bercelana coklat tua lusuh, pakai topi, dan berambut gondrong keputihan menunjukkan umurnya yang sudah tua. Jenggotnya yang berwarna putih dibiarkan tumbuh lebat. Kumisnya yang keputihanpun dibiarkan tumbuh panjang tak terawat. Namun, bukan itu sebenarnya yang membuat pandangan mata saya tak bisa terlepas dari dia.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, buat sebagian besar umat islam, Idul Adha yang jatuh pada hari Senin, 8 Desember 2008 lalu mungkin berlalu begitu saja. Mengalir bagaikan angin tanpa meninggalkan bekas. Adalah sebuah ironi menurut saya, sebuah peristiwa besar dalam islam, diperingati dan dirayakan oleh umat islam sebagai sebuah ritual tahunan tanpa meninggalkan makna esensi dari peristiwa itu pada setiap muslim.
Seperti layaknya beberapa grup band baru di tanah air yang hanya seumur jagung, Ichimang Band yang dibentuk di Fukuoka pertengahan bulan September yang lalu juga mengalami hal yang sama. Grup band yang dibentuk untuk mengisi salah satu sesi acara pada festival Indonesian Cultural Day (ICD) pada tanggal 29 dan 30 November 2008 di Kyushu National Museum, Fukuoka, Jepang sebagai salah satu dari rangkaian kegiatan peringatan 50 tahun hubungan Indonesia-Jepang ini, bubar beberapa hari setelah melangsungkan pentas, berganti nama menjadi Batik Band.