Purnama`s virtual notes

November 26, 2007

Living abroad

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 12:10 am
Pada sebuah posting blog pribadi, teman saya bercerita bagaimana orang China yang tidak menguasai bahasa Inggris bisa tinggal dan berbisnis di Kota New York, Amerika. Di sisi yang lain, ada seorang warga negara Kamerun yang begitu ketakutan dan sangat tidak percaya diri untuk datang ke kota itu karena merasa kurang fasih bahasa Inggrisnya. Dia melihat New York seperti kota menakutkan karena dia tidak bisa berbahasa Inggris.

Kalau menengok sedikit ke belakang, sejarah membuktikan bahwa bangsa China adalah bangsa penjelajah dan perantau. Bahkan dalam sebuah buku yang berjudul ”China menaklukkan dunia” (maaf kalau salah judulnya) disebutkan bahwa Christopher Columbus bukanlah orang pertama yang menemukan benua Amerika sekitar tahun 1490an. Tapi beberapa tahun sebelum itu bangsa China telah berhasil menjangkau benua tersebut dan membuat peta benua Amerika yang memang sengaja tidak dipublikasikan.

Dari sejarah China yang panjang itu, saat ini kita akan dapat menemui orang China di hampir seluruh belahan dunia. Di manapun orang China pergi, mereka akan mudah menemukan saudara-saudara dan komunitasnya sehingga tidak akan merasa terasing dan terkucil. Lain halnya dengan Kamerun. Kamerun hanyalah sebuah negara kecil di benua Afrika, dan tidak tercatat dalam sejarah dunia sebagai negara yang memiliki jiwa penjelajah dan perantau seperti China. Tidak banyak orang Kamerun yang bisa ditemukan di belahan dunia lain. Maka wajar bila orang China yang tidak bisa berbahasa Inggris bisa survive di Amerika karena ada komunitas ras yang mendukung, sementara orang Kamerun merasakan ketakutan datang ke Amerika karena kurang fasih berbahasa Inggris karena alasan sebaliknya.

Ketika saya di Melbourne beberapa tahun yang lalu, saya pun menemukan fenomena yang serupa dengan yang diceritakan teman saya ini. Saya sempat bertanya dalam hati, bagaimana mungkin orang Turki dan Lebanon yang tidak bisa berbahasa Inggris bisa tinggal di Australia. Jawabannya mungkin karena di sana banyak komunitas Lebanon dan Turki, dan mereka sangat solid.

Lain Amerika, lain Australia, lain pula Jepang. Di Kyushu University, khususnys di lab saya, ada seorang mahasiswa S3 China yang tidak bisa bahasa Jepang maupun Inggris. Menurut saya ini sangat konyol, karena tidak ada dosen yang bisa berbahasa China. Tiap kali konsultasi dengan dosen dia selalu didampingi temannya yang lebih senior yang fasih berbahasa Jepang. Pelajar dan warga negara Indonesia yang tinggal di sini pun banyak yang tidak bisa berbahasa Jepang. Tetapi, dengan dukungan teman-teman yang bisa berbahasa Jepang, serta kemampuan berbahasa Inggris yang cukup, membuat mereka (kami) tetap bisa bertahan hidup dan bisa melakukan aktivitas sehari-hari.

Jadi, ketakutan orang Kamerun yang akan datang ke New York mungkin akan sedikit berkurang apabila ada dukungan komunitas Kamerun di New York.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: