Purnama`s virtual notes

May 12, 2008

Tiga bidadari kecil

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 4:16 am

Pagi itu hujan gerimis menemani kepergianku dari rumah ke halte bus. Tangan kanan memegang payung, tangan kiri mengendalikan stang sepeda. Sepeda pun saya kayuh pelan-pelan karena sulit mengendalikan laju sepeda dengan tangan satu, apalagi ditambah dengan terpaan angin yang mendorong payung dan badanku ke kiri dan ke kanan. Begitu sampai dekat halte, sepeda saya parkir dan kunci, dan saya bergegas menuju ke halte, takut ketinggalan bus rute 22N, 27N atau Tenjin.

Begitu bus berhenti tepat di depan halte Najima Danchi, bergegas saya dan penumpang lain berhamburan masuk ke dalam bus. Tiket bus saya masukkan ke dalam mesin validasi tiket, dan segera mata melihat sekeliling mencari tempat duduk yang kosong. Sejurus mata saya mengarah ke bagian belakang bus. Ya di sana ada satu kursi kosong, begitu pikir saya. Lumayanlah bisa duduk 20 menit sampai ke halte Tenjin Yubinkyoku. Begitu siap-siap mau duduk, tiba-tiba ada perempuan tua berjalan kearahku. Rupanya dia sedang mencari tempat duduk yang kosong juga. Maka saya persilahkan perempuan tua itu untuk mengambil tempat duduk yang sedianya mau saya pakai. Ii desu ka? Begitu katanya. Sambil tersenyum saya mengangguk dan memberi tanda dengan tangan mempersilahkan dia duduk.

Begitu tidak ada lagi kursi kosong saya segera bergerak ke bagian depan. Ya memang lebih enak berdiri di depan karena lebih longgar, selain tentu saja keluarnya lebih cepat karena pintu keluar ada di depan. Saya segera bergerak ke dapan mencari ruang kosong dan tempat pegangan tangan. Segera setelah mendapat tempat kosong, pandangan mata saya tertambat ke arah dua sosok bidadari mungil berseragam sekolah di sebelah kiri saya berjarak satu setengah meter. Ini adalah sudah yang kesekian kali saya menemukan bidadari kecil yang lucu. Kalau dihitung, sudah beberapa kali saya menemukan mereka tanpa didampingi orang tua mereka naik bus ke sekolah untuk jarak yang cukup jauh. Dan setiap kali itu pulalah hati saya langsung tertambat. Setelah saya perhatikan lagi, ternyata kali ini mereka tidak hanya berdua, tapi bertiga. Yang dua duduk di kursi single, yang satu berdiri.

Kalau melihat baju seragam yang dikenakan dan ukuran fisik mereka, tampaknya mereka masih TK, atau setidaknya kelas 1 SD. Yang dua seumur, dan yang satu tampaknya lebih muda lagi, masih seumur TK. Mereka mengenakan baju dalam warna putih, ditutup rompi warna biru tua cenderung gelap, serta rok sewarna dengan rompi. Mengenakan topi sewarna dengan rompi dibalut kain melingkar warna merah hati. Topi ini tampak lucu sekali, bentuknya mirip topi pramuka untuk laki-laki, dan di bagian depan ada ornamen dasi kupu-kupu warna merah hati juga. Menggendong tas ransel khas Jepang, bentuk kotak, warna merah hati. Satu lagi tas tentengan warna biru tua.

Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya saya mengamati mereka. Begitu bus turun dari jalan layang dan berhenti di halte Kuramoto, beberapa penumpang turun. Karena ada kursi kosong, seorang ibu mempersilakan bocah yang tadinya berdiri untuk duduk di kursi itu. Hampir semua gerakannya saya amati, mengingatkan saya pada anak saya yang kecil. Setelah merasa nyaman dengan duduknya, bocah kecil itu mulai membuka tasnya. Dia mengeluarkan dompet berisi alat tulis, kemudian mengeluarkan sebatang pensil warna coklat tua. Dompet ditutup dan ditaruh di samping kanannya. Kemudian dia mulai sibuk lagi mencari sesuatu di dalam tasnya. Dua buah buku dia keluarkan, dan ditaruh di atas tas di pangkuannya. Buku dia buka, dan kekaguman saya kembali muncul. Ternyata dia membuka buku tulis, dan di sana saya lihat banyak tulisan huruf kanji. Rupanya buku itu buku latihan menulis huruf kanji, dan dengan serius dia mulai berlatih menulis kanji. Suatu pemandangan yang mengagumkan! Dan beberapa menit kemudian, bus sampai di halte Tenjin Yubinkyoku. Saya harus turun dan melanjutkan perjalanan ke kampus dengan bus yang lain.

Sepanjang perjalanan menuju halte bus berikutnya di Solaria Stage tak henti-hentinya saya memikirkan pengalaman yang baru saja dilihat. Dua gadis kecil berusia sekitar 6 tahun dan satu berusia sekitar 4.5 tahun naik bus ke sekolah tanpa diantar orang tua. Di manakah gerangan mereka sekolah? Sebegitu amankah Fukuoka sehingga orang tua berani melepas anak-anak mereka pergi ke sekolah tanpa diantar?

Dari pengalaman dan cerita teman-teman, Fukuoka memang terkenal kota yang aman. Bahkan karena keyakinan pemerintah Fukuoka akan keamanan kotanya, ada peraturan sekolah bahwa sejak SD anak-anak tidak boleh diantar orang tuanya ke sekolah. Sistem lalulintas yang teratur dan tertib membuat orang tua tidak perlu khawatir anak-anak mereka menyeberang jalan. Suasana ini sedikit banyak telah melatih keberanian anak untuk mandiri dalam beraktifitas. Dan… kehadiran bidadari kecil ini selalu menyadarkanku betapa saya sangat merindukan buah hatiku di seberang sana…..

1 Comment »

  1. Cerita yang menarik dan menyentuh. Ada pelajaran yang bisa diambil.
    Trims Mas…

    Comment by Santi — May 14, 2008 @ 3:08 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: