Purnama`s virtual notes

May 14, 2008

Kolaborasi musik Indonesia-Jepang

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 5:41 am

Sering kita mendengar dan melihat kolaborasi musik, seperti kolaborasi antar dua kelompok musik dalam suatu pementasan. Jaduk Feriyanto, salah satu kampiun musik kontemporer Indonesia, sering mengkolaborasikan beberapa alat musik tradisional Indonesia, khususnya Jawa, dengan berbagai alat musik modern. Hasilnya….? Memang sangat menakjubkan…..! Kelompok Kyai Kanjeng pimpinan Cak Nun pun tak jarang mengkolaborasikan musik tradisional dengan alat musik modern di setiap pertunjukannya.

Tetapi pernahkah dalam sejarah musik ada kolaborasi alat musik tradisional daerah antara dua negara, khususnya alat musik bambu? Mungkin ya, mungkin juga tidak… Yang jelas, fenomena kolaborasi musik tradisional antar negara memang sangat sulit dijumpai. Di tengah gempuran instrumen musik elektrik yang dapat menghasilkan suara yang sangat bervariasi, kehadiran musik tradisional sudah sejak lama dipandang sebelah mata. Oleh karena itu, di jaman sekarang musik tradisional sudah tidak lagi menjadi konsumsi utama para penikmat musik, terutama para kaum muda. Selera musik kelompok usia ini memang sudah berubah. Bisa dikatakan, sekarang ini kehadiran musik tradisional hanyalah sekedar untuk mempertahankan tradisi dan budaya suatu daerah karena alat musik tradisional merupakan ciri khas sebagai perwujudan seni budaya daerah yang bersangkutan.

Dalam perjalanan sejarah bermusik saya yang sangat amatiran, hari Selasa 13 Mei yang lalu merupakan hari yang sangat istimewa buat saya. Pada hari itu sekitar jam 19.30 telah terjadi peristiwa sejarah dalam dunia musik dengan dilakukannya kolaborasi musik tradisional Indonesia yaitu angklung dari Jawa Barat dengan musik tradisional bambu Jepang. Hari itu merupakan latihan bersama yang pertama antara kelompok musik angklung yang dimainkan oleh mahasiswa PPI Fukuoka dan Kelompok lagu-lagu Kai Jepang pimpinan Kubokura-san, berkolaborasi dengan kelompok musik bambu ternama Nakagawa Bamboo Orchestra, sebagai persiapan untuk tampil bersama dalam acara yang bersejarah dan fenomenal, yaitu Peringatan 50 tahun Hubungan Jepang-Indonesia (PHIJ50) di Fukuoka. Merasa intimewa rasanya menjadi salah satu personil pemain angklung yang pada awal bulan Juni tahun ini akan tampil berkolaborasi musik tradisional bersejarah dalam event akbar yang bersejarah pula. Sebagai pemusik amatiran tentunya perasaan ini tidak terlalu berlebihan. Mengingat untuk bisa tampil di event besar naruslah orang-orang yang punya kemampuan dan talenta yang istimewa. Tapi saya ini apa….. hanya seorang pemain angklung amatiran yang pegang alat musik angklung saja baru beberapa minggu yang lalu. Maka tidak terlalu berlebihan rasanya apabila saya memiliki perasaan senang, bangga dan merasa istimewa karena terlibat dalam kolaborasi musik ini.

Agak sulit buat saya menjelaskan secara detil alat musik tradisional Jepang yang menjadi partner kami dalam berkolaborasi. Pada dasarnya, alat musik ini sangat sederhana. Hanyalah potongan-potongan bambu dengan ukuran yang berbeda-beda sehingga ketika dipukul dari ujungnya dengan alat pemukul akan menghasilkan nada-nada yang indah. Potongan bambu-bambu kecil digunakan untuk menghasilkan suara melodi, sementara potongan bambu yang besar untuk menghasilkan suara bass. Kelompok Nakagawa ini terdiri dari sekitar 16 personil. Yang menarik dari kelompok ini adalah, personil yang terlibat terdiri dari tiga generasi yang berbeda. Kelompok tertua sebagai generasi pertama adalah kakek-kakek berusia sekitar 70an. Generasi kedua ada ibu-ibu dan bapak, sedangkan generasi ketiga terdiri dari anak-anak berusia antara 6 sampai sekitar 13 tahun, mereka semua perempuan. Meskipun masih anak-anak, generasi ketiga ini sangat terampil dalam memukul bambu sesuai dengan nadanya. Bahkan karena sudah mahir, mereka tidak perlu lagi membaca partitur, secara refleks mereka sudah tahu kapan harus memukul bambu dan bambu yang mana yang harus dipukul. Karena waktu itu latihannya malam, ada anak kecil yang sambil terkantuk-kantuk berusaha tetap di tempat, sambil dengan tangkas memainkan nada yang diperankan. Suatu pemandangan yang lucu…. Dari sisi regenerasi, kolaborasi dari tiga generasi kelompok musik bambu Nakagawa ini patut diacungi jempol. Suatu usaha melestarikan tradisi yang sangat efektif.

Dalam latihan itu lagu yang kami mainkan adalah dua lagu Jepang berjudul Sen no kaze ni natte dan Nada sou sou. Penampilan kelompok Nakagawa Bamboo Orchestra dalam memainkan lagu Sen no kaze ni natte dapat disimak di bawah:

1 Comment »

  1. Good article, Nice header, You Know I like the video.

    Comment by yd.I — December 7, 2008 @ 10:11 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: