Purnama`s virtual notes

July 15, 2008

Sisi lain Fukuoka: The Big ISSUE

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 6:19 pm

Setiap pagi setidaknya sekali dalam seminggu, ketika berjalan menuju halte Solaria Stage di Tenjin untuk mendapati bus menuju ke kampus, ada fenomena yang selalu menarik perhatian saya. Begitupun di sore hari, di perempatan jalan di dekat Kantor Pos Pusat Tenjin, fenomena serupa sering kali tak luput dari perhatian saya. Fenomena yang selalu mengingakan saya dengan fenomena serupa beberapa tahun yang lalu di Melbourne, antara awal 2002 sampai akhir 2004, di lokasi yang selalu memiliki ciri yang sama: perempatan jalan, pusat kota, dan pusat keramaian. Fenomena yang saya yakin buat orang lain belum tentu spesial ini memang telah memikat perhatian saya sewaktu saya di Melbourne beberapa tahun yang lalu.

Adalah “The Big Issue”, nama sebuah majalah yang dijual dengan cara yang sangat tidak lazim. Majalah ini tidak dijual di kios-kios majalah, apalagi di toko buku baik di Melbourne maupun di Fukuoka. Majalah ini dijual dengan cara yang sangat konvensional, yaitu ditawarkan kepada para pejalan kaki di pusat-pusat keramaian oleh seorang lelaki yang sudah setengah baya, dengan penampilan yang sangat sederhana (untuk tidak mengatakan di bawah standar penampilan penduduk setempat). Fenomena inilah yang telah mampu membuat rasa penasaran saya terhadap majalah tersebut selalu menyala: sebuah majalah berjudul “The Big Issue”, dipasarkan secara eksklusif konvensioanal, dijual oleh seorang lelaki setengah baya dengan penampilan sangat sederhana.

Baik di Melbourne maupun di Fukuoka, majalah yang ditawarkan kepada para pejalan kaki dengan cara berdiri di perempatan jalan kota sambil mengangkat tinggi-tinggi satu majalah dengan tanpa mengucapkan sepatah katapun, ternyata sangat jarang dihampiri oleh calon pembeli untuk sekedar melihat sekalipun, apalagi membeli. Sering kali saya merasa iba melihat orang ini begitu gigih dan sabar mencoba menjual sebuah majalah yang kurang diminati kebanyakan orang. Dari penampilannya, saya yakin mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap yang layak. Dari jasa menjual majalah inilah mereka mendapatkan sekeping uang untuk menopang kehidupan mereka. Suatu keadaan yang kontradiktif dengan kondisi kota yang penuh dengan kemakmuran dan kemewahan di setiap penjuru kota. Kota yang dipenuhi dengan warna-warni cahaya dan wanginya aroma kesejahteraan dan kemewahan itu seolah-olah melupakan dan tidak mempedulikan kehadiran mereka, warga kota yang tidak mampu merasakan nikmatnya sebuah kemakmuran di negara yang kaya raya. Sungguh sebuah ironi.

Rasa penasaran akan teka-teki di balik fenomena yang sebenarnya sangat sederhana yang belum terjawab sampai saatnya saya harus pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan studi di Melbourne beberapa tahun lalu, akhirnya kembali menyeruak di dalam pikiran saya beberapa hari terkahir ini, di Fukuoka. Sore itu hari sabtu sekitar pukul 19:00 hari memang belum gelap karena di Fukuoka sedang musim panas, di mana matahari terbenam pukul 19:34. Di sore yang panas itu, selepas turun dari bus dari kampus, saya kembali melihat satu diantara mereka yang dengan sabar tengah berusaha menjual majalah “The Big Issue” di dekat Kantor Pos Pusat Tenjin. Lelaki itu berumur sekitar 40 sampai 45 tahun, mengenakan baju flanel bermotif kotak-kotak dengan dominasi warna biru tua dikominasikan dengan celana panjang warna gelap, sepatu kets usang dan mencangklong tas lusuh yang saya yakin berisi beberapa majalah. Dia berdiri tegak tepat di samping tiang lampu kota di perempatan jalan utama dekat Kantor Pos Pusat Tenjin. Tidak seperti wiraniaga yang selalu proaktif ketika membagikan sampel produk gratis kepada pejalan kaki setiap pagi di sekitar Tenjin Station, lelaki ini terlihat sangat pasif dalam menjual dagangannya. Sambil memegang sebuah majalah, tangan kanan diangkat ke atas tinggi-tinggi agar majalah terlihat oleh setiap pejalan kaki. Tidak ada kata-kata keluar dari mulutnya, sangat kontradiktif dengan gaya marketing Jepang yang selalu mengucapkan kata-kata dengan keras untuk menarik calon pembeli. Dari sorot matanya dan raut wajahnya, saya menangkap kesan bahwa dia sangat berharap ada satu atau dua pejalan kaki yang sudi menghampirinya dan membeli satu majalah seharga 300 yen itu. Ya… 300 yen adalah harga yang sangat murah, setara dengan satu kali makan makanan sederhana kelas mahasiswa. Rasa iba kembali menghampiriku. Yah…..perasaan mudah iba dan kasihan pada orang lemah yang dengan gigih berusaha mencari rizki dengan jalan yang baik adalah salah satu kelemahanku… atau justru sebaliknya? Sore itu, rasa iba yang begitu kuat berhasil menguatkan tekad saya untuk menuntaskan rasa penasaran yang sudah sekian tahun bersemayam dalam pikiranku. Keingintahuanku tidak bisa saya tunda lagi. Saya harus mencari informasi…! begitu tekad saya waktu itu.

Begitu komputer terakses dengan internet, saya meminta bantuan teman setia saya Mbak Google untuk mencari informasi yang saya perlukan. Dalam hitungan kurang dari dua detik, teman saya dengan cekatan berhasil menghapus rasa penasaran saya akan kebutuhan informasi di balik “the Big Issue”. Satu demi satu informasi saya baca. Rasa penasaran yang sebelumnya begitu menggelayuti pikiran saya berangsur-angsur berubah menjadi rasa kagum.

“The Big Issue” adalah sebuah badan internasional yang bekerja dengan para tuna wisma (homeless people) di seluruh dunia, dari United Kingdom sampai Afrika, Asia dan Australia. Perusahaan “The Big Issue” juga bertujuan untuk mempromosikan dirinya sebagai sebuah model bagaimana sebuah usaha sosial bisa menjadi sebuah solusi bagi “homelessness” dan “social exclusion”.

Majalah “The Big Issue” pertama kali diterbitkan pada September 1991 oleh A. John Bird dan Gordon Roddick di London, UK, sebagai respon atas begitu banyaknya jumlah gelandangan di London. Ide penerbitan majalah ini berawal dari kunjungan Bird dan Roddick ke US. Mereka melihat dan terkesan dengan adanya surat kabar “Street News” di New York yang dijual oleh para tunawisma. Pada awalnya majalah ini terbit bulanan. Tapi pada tahun 1993, “The Bid Issue” terbit mingguan dan beberapa cabang regional mulai dibentuk: Scotland, Wales, The North of England, dan The South West. Sekarang “The Big Issue” telah berubah menjadi badan internasional yang mencakup UK, Australia, Japan, South Africa, Namibia dan Kenya.

Yayasan The Big Issue didirikan tahun 1995 dengan tujuan: “to complement the way the magazine works with homeless people and assist them in gaining control of their lives and achieving greater self-reliance and independence. Although financial exclusion is one of the key reasons why people remain homeless – and one of the core aims of The Big Issue is to give people a legitimate way of making a living – there are other benefits of becoming a vendor. Not only does beginning to sell the magazine provide an opportunity to access the services of The Big Issue Foundation, but also the act of having to organize themselves and their money, as well as committing to a sales pitch, teaches new skills and self reliance, which in turn builds self confidence and can be the key to moving on. The Big Issue offers social as well as financial inclusion” (The Big Issue, UK).

Di Jepang, “The Big Issue Japan” dibentuk tahun 2003, sejalan dengan visi dan misi The Big Issue pendahulunya. Setelah terbukti bahwa seseorang adalah tuna wisma, dia akan diberi sepuluh majalah seharga 140 yen setiap copinya, dan menjual ke masyarakat seharga 300 yen. Dari September 2003 sampai Mei 2007 sudah ada 644 tunawisma yang tercatat sebagai vendor untuk The Big Issue Japan, dan telah berhasil menjual 2.05 juta copi majalah dan memberi penghasilan sekitar 225.5 juta yen untuk mereka. Dari jumlah itu, sekitar 15% vendor sudah mendapat pekerjaan yang lebih permanen dan tinggal di akomodasi mereka sendiri. Saat ini ada sekitar 150 vendor yang tersebar di Sapporo, Sendai, Tokyo, Kyoto, Osaka, Kobe, Hiroshima, Fukuoka and Kumamoto. Rata-rata satu vendor mampu menjual sekitar 25 majalah dalam sehari.

The Big Issue, sebuah fenomena di kota besar yang tidak mendapatkan perhatian dan respon baik dari warga kota, ternyata merupakan sebuah bentuk usaha mulia yang cerdas untuk mengangkat harkat hidup para tunawisma. Saya yakin, membeli majalah dari mereka merupakan bentuk tindakan nyata kita untuk turut membantu meningkatkan taraf hidup mereka. Ya…. hanya dengan 300 yen dari kita, hidup mereka akan bisa lebih berwarna.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: