Purnama`s virtual notes

July 29, 2008

Huis Ten Bosch: sebuah kota Belanda di negeri Matahari Terbit

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 12:47 pm

Pagi itu jam 9, Minggu 20 Juli 2008, dua bus berisi rombongan anggota PPIF dan keluarga meluncur dari dormitori mahasiswa internasional, Kyushu University di Kashiihama. Wajah mereka terlihat ceria, meskipun ada beberapa pelajar laki-laki yang terlihat mengantuk karena habis kerja di pagi buta. Suasana begitu gembira dihiasi canda dan tawa penumpang bus. Kegembiraan ini terasa lebih lengkap karena terdengar suara anak kecil di setiap penjuru ruang dalam bus. Ada yang teriak-teriak, ada yang merengek-renget minta makanan kecil, ada yang bersenda gurau dengan orang tuanya, dan ada juga yang diam seribu bahasa larut dalam keasyikan bermain PS2. Yaah….suasana yang sangat khas ke-Indonesiaan-nya: suara riuh anak-anak…… Hmm… saya pernah bercerita tentang hal ini pada teman saya, bahwa di manapun berada, kehadiran komunitas pelajar Indonesia di luar negeri akan selalu mudah dikenali karena keberadaan anak kecil yang banyak jumlahnya….di manapun…….. Yah.. pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat memang merupakan salah satu ciri khas negara berkembang.

Hari itu lebih dari seratus warga Indonesia yang ada dalam dua bus itu benar-benar merasakan kegembiraan. Bagaimana tidak…..? Pagi itu mereka akan pergi ke Huis Ten Bosch, salah satu kota di negeri Belanda secara gratis! Seperti tahun-tahun sebelumnya, Kyudenko (Perusahaan Listrik Kyushu) selalu men-sponsori perjalanan wisata bagi warga PPIF. Dan tahun ini, kesempatan itu diberikan lagi oleh Kyudenko, jalan-jalan ke Huis Ten Bosch di Nagasaki. Karena keberhasilan penyelenggaraan event PHIJ50 pada bulan Juni lalu, Kyudenko memberikan hadiah jalan-jalan gratis ini kepada semua warga PPIF. Seratus tiket passport (terusan) serta transportasi gratis disediakan oleh Kyudenko bagi seluruh warga PPIF dan keluarga. Ini merupakan salah satu wujud kepedulian Kyudenko terhadap para pelajar asing di Fukuoka, khususnya pelajar Indonesia.

Jalan-jalan di salah satu kota negeri Belanda di Jepang….? “Ah… aya aya wae…” begitu respon teman saya kalau mendengar hal yang mustahil.

Bagi orang Jepang, khususnya penduduk di wilayah Fukuoka, mereka dapat menjumpai suasana kota Belanda bernama Huis Ten Bosch di Nagasaki Prefecture. Huis Ten Bosch di Nagasaki ini adalah replika kota Huis Ten Bosch di Belanda. Huis Ten Bosch yang bermakna “House in the forest” ini meliputi area seluas 152 hektar, dibangun pada tahun tanggal 25 Maret 1992 dan selesai dalam lima tahun. Huis Ten Bosch terletak di pinggir laut, dan menempati daerah reklamasi pantai, yang sebelumnya merupakan daerah yang tidak subur. Kota wisata ini dibangun sebagai pertanda hubungan perdagangan yang sangat “fruitfull” yang diawali oleh kedatangan kapal dari Belanda bernama De Liefde pada tahun 1600-an, dan menjadikan kota Nagasaki sangat makmur pada periode Meiji (akhir abad 19). Dengan support dari pemerintah Belanda dan perusahaan-perusahaan Jepang, proyek pembangunan Huis Ten Bosch dapat direalisasikan.

Setelah sempat istirahat sekitar 20 menit di perjalanan, akhirnya sekitar jam 11:45 bus yang membawa warga PPIF sampai di Huis Ten Bosch. Bus melaju pelan memasuki lapangan parkir Huis Ten Bosch. Beberapa saat kemudian pengunjung keluar bus dan wuuih… udara yang sangat panas menyambut kedatangan kami. Menurut cerita teman-teman yang sudah beberapa tahun di Fukuoka, musim panas tahun ini terasa lebih panas dari tahun-tahun sebelumnya. Kehadirannya pun agak terlambat.

Setelah foto-foto bersama semua warga PPIF, kami segera berhamburan tanpa terkoordinasi masuk ke Huis Ten Bosch. Begitu mendekati pintu masuk utama pengunjung mulai disuguhi oleh lingkungan bernuansa Belanda, didominasi oleh pemandangan bangunan-bangunan khas Belanda. Bangunan khas Eropa yang didominasi oleh dinding dari batu bata merah maupun coklat tua sangat itu sangat mencolok terlihat di setiap penjuru kota ini. Di beberapa tempat terbuka terlihat kincir angin khas Belanda, besar dan berwarna gelap. Tiap kincir angin terdiri atas empat baling-baling raksasa yang ditopang oleh bangunan berbentuk oval, terletak di tengah lahan terbuka yang ditumbuhi beraneka warna bunga. Suasana harmonis tercipta dengan kehadiran sungai yang lebar dan jernih yang membelah kota ini. Beberapa perahu terlihat dipenuhi pengunjung yang hilir mudik menyusuri sungai ini, melintasi setiap sudut kota yang tertata asri. Perahu ini bentuknya klasik khas perahu sungai di Eropa, bertenaga mesin dan dapat mengangkut puluhan penumpang. Dengan ruangan ber-AC, perjalanan dengan perahu ini terasa sangat nyaman. Di sepanjang perjalanan terlihat beberapa angsa dan bebek bergerombol di beberapa tempat, menambah keserasian lingkungan. Satu ciri khas dari Belanda yang tidak terlihat adalah bunga tulip. Yah…bunga tulip yang merupakan maskot negeri Belanda tidak tumbuh pada musim panas ini. Mereka hanya berbunga pada musim semi.

Saat ini Huis Ten Bosch merupakan tempat wisata favorit bagi penduduk Jepang maupun wisatawan asing. Dalam beberapa hal, konsep pembangunan Huis Ten Bosch ini mirip dengan Taman Mini Indonesia Indah. Ada berbagai macam fasilitas yang dapat dinikmati di sana. Mulai dari museum-musem yang menampilkan koleksi benda-benda bersejarah Belanda dan Jepang, sampai tempat entertainment modern seperti bioskop 3 dimensi. Bagi yang tidak kuat jalan kaki, mereka bisa naik bus, semacam bus kota yang berkeliling kota, maupun menyewa sepeda tandem. Ada juga perahu bajak laut (Pirate ship) yang bisa dinaiki berkeliling di laut sekitar Huis Ten Bosch selama 20 menit.

Tepat pukul 17:30 kamipun harus mengakhiri kunjungan ini. Diiringi hujan gerimis, kami berlarian menuju ke bus yang sudah menanti di parkiran. Perlahan-lahan bus mulai berjalan meninggalkan Huis Ten Bosch. Sepanjang perjalanan terlihat wajah-wajah ceria warga PPIF. Sedikit kesalahpahaman mengenai mekanisme perjalanan wisata ini yang sempat terjadi beberapa minggu sebelumnya, akhirnya terbayar sudah dengan kepuasan. Tidak seramai waktu keberangkatan tadi, dalam perjalanan pulang ini para penumpang terlihat lebih tenang, mungkin karena kelelahan. Suhu panas siang tadi memang benar-benar telah menyedot tenaga kami semua. Terlihat banyak diantara kami yang mulai terlelap dalam tidur, atau setidaknya sekedar memejamkan mata untuk beristirahat. Di dalam pikiran mereka telah terekam berjuta memori kesan-kesan perjalanan di Belanda. Kamera yang telah dipenuhi fotopun sudah dimasukkan kembali ke dalam tas. Pada saatnya nanti, memori dalam kepala dan foto-foto dalam memory card ini akan menjadi sebuah cerita untuk sahabat dan keluarga.

1 Comment »

  1. Wah menarik juga kayaknya… sayangnya saya gak punya kesempatan ke Fukuoka, hanya ke Tokyo dan Hokkaido.

    Salam
    http://www.ossgis.co.cc

    Comment by Farid — October 19, 2008 @ 8:27 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: