Purnama`s virtual notes

December 29, 2008

UU Badan Hukum Pendidikan

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 12:23 pm

uu-badan-hukum-pendidikanDisyahkannya UU BHP telah menuai banyak kritik dan protes dari masyarakat, khususnya para mahasiswa di berbagai daerah. Dengan disyahkannya UU ini dikhawatirkan kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia tidak akan pro-rakyat lagi dengan meningkatnya biaya pendidikan dan semakin mendorong komersialisasi pendidikan tinggi.

Bantahan akan tuduhan miring masyarakat terhadap UU BHP dilontarkan oleh DPR dan pemerintah. Ketua Komisi X DPR membantah akan terjadinya kenaikan biaya pendidikan. Dia mengatakan bahwa justru biaya kuliah akan turun dengan UU yang baru ini. Sementara Menteri Pendidikan justru membantah bahwa UU BHP akan mendorong komersialisasi pendidikan tinggi.

Berikut berita terkait dari Republika.co.id

—————————–
DPR : Biaya Kuliah Turun

JAKARTA — Ketua Komisi X DPR yang membidangi pendidikan, Irwan Prayitno, menjamin biaya kuliah akan turun dengan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP). Mantan ketua Panitia Khusus RUU BHP ini menilai orang-orang yang memprotes belum membaca dan memahami UU BHP secara menyeluruh.

”Bagaimana biaya kuliah mahal kalau biaya investasi (uang masuk, uang pangkal, dan lain-lain–Red) ditanggung negara, dua pertiga biaya operasional ditanggung negara, dan ada klausul yang mengharuskan perguruan tinggi merekrut 20 persen mahasiswa miskin?” katanya kepada Republika di Jakarta, Senin (22/12).

Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo, juga menilai banyaknya protes dan unjuk rasa karena belum tahu draf terakhir UU BHP. ”Saya duga, banyak yang belum tahu versi terakhir. Tidak benar RUU BHP yang disahkan 17 Desember melegalisasi komersialisasi pendidikan,” katanya di Yogyakarta, kemarin.

Bambang mengatakan UU BHP telah menegaskan bahwa BHP adalah institusi nirlaba. Jika ada kelebihan sisa hasil usaha (SHU), dikembalikan ke institusi pendidikan untuk meningkatkan mutu atau kapasitas pelayanan pendidikan. ”Yang memperkaya diri sendiri akan dikenai hukuman pidana lima tahun dan denda Rp 500 juta.”

Tapi, Bambang mempersilakan bila memang UU itu tetap didemo atau diuji materiil ke Mahkamah Konstitusi (MK). ”Silakan,” katanya. Demonstrasi menolak UU BHP sampai kemarin masih terjadi di berbagai daerah antara lain di Malang, Surabaya, Semarang, dan Nanggroe Aceh Darussalam.

Turunnya biaya kuliah ke depan, kata Irwan, dapat digambarkan dengan rumus: SPP BHP = SPP BHMN/sekarang – dana investasi – dana lain-lain – dua pertiga biaya operasional. Jika dulu biaya kuliah Rp 3 juta, dengan rumus itu, Irwan mengatakan, ”Akan dikurangi biaya investasi Rp 1 juta, sehingga tinggal Rp 2 juta. Kemudian, dikurangi biaya lain-lain Rp 500 ribu, sehingga tinggal Rp 1,5 juta. Lalu, dipotong biaya operasional dua pertiga dari Rp 1,5 juta itu. Jadi, tinggal Rp 500 yang nanti dibayar.”

Yang lebih menjamin UU BHP pro-orang miskin, kata Irwan, adalah adanya klausul yang mengharuskan perguruan tinggi merekrut 20 persen mahasiswa miskin dan langsung diberi beasiswa. ”Sekarang ini, total mahasiswa miskin di perguruan tinggi hanya lima persen dan saat masuk mereka harus sibuk cari beasiswa. Sekarang tidak lagi.”

Karena ketentuan-ketentuannya yang sudah sangat pro-poor itu, Irwan mengatakan fraksi-fraksi di DPR bulat menyetujui RUU BHP untuk disahkan menjadi UU. ”Kalau membaca draf awal pemerintah, memang mengandung banyak unsur komersial. Tapi, saat sampai di DPR, banyak yang kita delete,” katanya.

Setelah kebutuhan anggaran di-exercise dengan dana pendidikan Rp 200 triliun di APBN, Irwan mengatakan SPP di sekitar 50 perguruan tinggi yang totalnya Rp 5 triliun, bisa ditutupi. Sebenarnya, kata Irwan, bisa saja pendidikan tinggi digratiskan. Tapi, itu dinilai tidak adil. ”Jadi, kita bikin yang mampu tetap bayar, yang miskin gratis.”

Kalangan yang membayar pun, kata Irwan, kelak bertingkat-tingkat, sesuai kemampuan. ”Bisa ada mahasiswa yang membayar Rp 100 ribu dan ada yang membayar Rp 10 juta,” katanya.

Advertisements

Selamat tahun baru Hijriyah 1430

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 12:06 pm

selamat-tahun-baru-hiriyah-1430

“Di dalam tahun baru hijriah ini selayaknya kita sebagai muslim yang taat, mengintrospeksi diri dengan semua apa-apa yang telah kita perbuat. Dan memilih semua bentuk amalan yang baik untuk tetap kita pertahankan dan kita tingkatkan porsi amalan yang baik untuk kita kerjakan. Dan meninggalkan semua perbuatan yang tidak bermanfaat, baik untuk diri kita ataupun orang sekitar kita” (Pesantren online)

Selamat tahun baru Hijriah 1430. Semoga keberkahan dan kebaikan menyertai kita di tahun mendatang. Amiin.

December 22, 2008

Antara hari ibu dan film “Changeling”

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 5:26 pm

changelingChristine Collins (diperankan oleh Angelina Jollie) adalah seorang single parent atas sorang anak laki-laki berusia 9 tahun bernama Walter Collins, tinggal di Los Ageles, USA. Meskipun menjadi seorang single parent, kedua ibu dan anak ini terlihat bahagia menjalani hari-hari mereka. Christine adalah seorang supervisor pada sebuah perusahaan telekomunkasi yang sedang berkembang pesat, sementara Walter adalah murid sekolah dasar.

Sudah menjadi kebiasaan bagi Walter ditinggal seorang diri di rumah oleh ibunya bekerja. Kebiasaan ini sudah berjalan beberapa waktu, dan tidak pernah ada masalah dengan pola aktivitas seperti ini. Dan hari itu, Maret 1928, seperti biasa karena libur sekolah Walter ditinggal di rumah oleh ibunya yang harus masuk shift kerja. Namun betapa paniknya Christine sore itu ketika sesampai di rumah tidak dijumpai anak semata wayangnya. Bayangan kebahagiaan bertemu dengan anaknya sepulang dari kerja yang melelahkan, telah berubah menjadi kepanikan dan bayang-bayang tragedi. Berbagai usaha telah dia lakukan untuk menemukan Walter. Namun usaha ini sia-sia belaka hingga akhirnya dia menyerah dan dengan berlinang air mata melaporkan kasus ini kepada polisi. Kepolisian Los Angeles yang pada era itu dikenal tidak adil dan korup menanggapi laporan Christine dengan datar dan arogan.

Beberapa bulan berlalu dan tidak ada informasi mengenai keberadaan Walter. Hingga akhirnya pada bulan Agustus 1928, polisi menelpon bahwa mereka telah menemukan Walter. Betapa gembiranya Christine mendengar berita itu. Berita inipun segera tersebar di seluruh kota. Penyambuatn kedatangan Walter sudah dipersiapkan, dihadiri oleh para wartawan. Dan setelah ditunggu beberapa saat, keretapun datang. Dengan bergegas dan tak sabar Christine menghampiri kereta yang masih berjalan pelan. Setelah kereta berhenti, dari dalam kerata keluar seorang anak laki-laki didampingi oleh petugas polisi perempuan. Namun wajah Christine berubah seketika, karena ternyata anak laki-laki itu bukanlah Walter anaknya. Namun anehnya anak kecil itu mengaku bahwa dia adalah Walter dan Christine adalah ibunya. Dalam kondisi seperti ini, Christien diancam dan dipaksa oleh polisi untuk mengakui bahwa anak itu adalah Walter.

Seminggu sudah Christine dipaksa untuk mengakui anak lelaki yang bukan anaknya sendiri. Beberapa kali dia berusaha membantah itu, tapi polisi tetap bersikukuh bahwa anak itu adalah Walter. Berbagai carapun dilakukan oleh polisi agar Christine mengakui bahwa anak itu adalah anaknya, yaitu dengan tuduhan mengalami gangguan mental dan membahayakan masyarakat. Sehingga ujungnya dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Di sinipun intimidasi terus dilakukan, dengan berbagai penyiksaan. Salah satu syarat agar dia dinyatakan sehat dan keluar dari rumah sakit jiwa adalah apabila dia mau menandatangi pernyataan bahwa anak kecil yang telah ditemukan polisi adalah Walter, anaknya. Namun Christine tetap saja menolak menandatangai surat itu. Alasannya sederhana. Kalau dia menandatangi surat itu, berarti anak kecil itu ditetapkan sebagai Walter. Konsekuensinya pihak polisi tidak akan melanjutkan proses pencarian Walter yang hilang.

Seiring dengan berjalannya waktu lambat laun tragedi hilangnya Walter mulai menunjukkan titik terang dengan ditemukannya tersangka pembunuh anak-anak. Dia didakwa telah membunuh sekitar dua puluh anak-anak. Namun sampai dua tahun kemudian, dengan meninggalnya si penjagal anak-anak di tiang gantungan, informasi apakah Walter adalah salah satu dari korban pembunuhan tetaplah tidak jelas.

Siang itu, lima tahun sejak menghilangnya Walter dari pelukan Christine, Christine mendapat mendapat telpon yang mengabarkan bahwa polisi telah menemukan seorang anak laki-laki yang berhasil lolos dari penyekapan pembunuh anak beberapa tahun yang lalu. Dengan antusias Christine mendatangi kantor polisi, dan mendengarkan proses interogasi polisi terhadap anak itu. Dari interogasi itu terbukti bahwa anak itu adalah salah seorang yang berhasil lolos dari pembunuhan, tetapi dia bukanlah Walter anaknya.

Christine, mantan seorang seorang single parent tetap tegar menghadapi kenyataan bahwa nasib anaknya belum diketahui. Sebagai seorang ibu, dia tetap punya semangat untuk terus mencari Walter dan masih terus berharap bahwa Walter masih hidup di suatu tempat dan suatu hari mereka akan dipertemukan kembali.
——
Film yang diangkat dari kisah nyata ini, meskipun tidak pas sekali, dapat menggambarkan beratnya seorang single parent dalam membesarkan buah hatinya, dengan berbagai tantangan dan cobaan yang harus dihadapi. Perjuangan, tanggung jawab, cinta kasih, dan perhatian yang dicurahkan seorang ibu kepada anaknya sungguh tidak ternilai. Tidak ada cinta kasih yang murni selain cinta seorang ibu kepada anaknya.

Selamat hari ibu untuk ibuku. Selamat hari ibu untuk istriku, ibu anak-anakku yang saat ini sedang menjadi single parent.

December 19, 2008

Yogyakarta Tujuan Wisata Terbaik 2008

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 11:13 am

yogyakarta-tujuan-wisata-terbaikSetiap kali ada liburan panjang, baik liburan sekolah maupun liburan hari besar, lalulintas Jogja selalu dipadati oleh bus-bus dan mobil pribadi berplat luar kota. Buat warga kota Jogja, terutama mereka yang tidak terlibat langsung dalam urusan bisnis wisata atau tidak secara langsung mendapatkan keuntungan dari industri wisata, sering kali kondisi ini menimbulkan ketidaknyamanan. Lalulintas yang macet, terutama di ruas-ruas jalan seputar kota, selalu membuat perjalanan tidak nyaman. Tetapi di sisi lain, kondisi ini tentu merupakan berkah bagi para pelaku bisnis wisata, karena dari industri wisata inilah mereka dan pemda Kota Yogyakarta mendapatkan pemasukan.

Memang Jogja sudah lama dikenal sebagai salah satu kota tujuan wisata favorit di Indonesia, selain Bali, baik oleh wisatawan lokal maupun wisatawan manca negara. Borobudur, Prambanan, Keraton, Malioboro, Pantai Parangtritis, dan beberapa kota tua seperti Kotagede dan Kauman, merupakan obyek wisata utama di daerah ini. Saya ingat betul beberapa tahun lalu hampir setiap hari bisa dijumpai wisatawan mancanegara yang berjalan di sepanjang jalan di Kotagede, menikmati industri kerajinan perak dengan mengunjungi outlet-outlet produk kerajinan perak dan juga menikmati proses pembuatan perhiasan dari perak. Memang Kotagede terkenal karena industri kerjinan perak, tembaga dan kuningan. Sampai-sampai Kotagede mendapat julukan sebagai Kota Perak. Namun kondisi ini mulai surut, kalau tidak salah sejak adanya krisis moneter, di mana banyak industri kerajinan perak yang gulung tikar karena mahalnya bahan baku.

Berita menarik yang baru saja dirilis (Kompas.com) menyebutkan bahwa Jogjakarta merupakan kota tujuan wisata terbaik sepanjang tahun 2008 bagi wisatawan Malaysia. Tentu saja hasil survey ini merupakan indikasi positif akan kebangkitan Jogjakarta sebagai kota tujuan wisata bagi turis mancanegara. Selamat dan bravo kotaku Jogjakarta!
———————————————–

KUALA LUMPUR – Daerah Istimewa Yogyakarta terpilih sebagai ”Destinasi Wisata Terbaik Luar Negeri 2008” atau tempat tujuan wisata luar negeri terbaik bagi masyarakat Malaysia dalam Malam Anugerah Insan Pariwisata Majalah Libur di Hotel Concorde, Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (17/12) malam.

Penghargaan diserahkan oleh Kementerian Pariwisata Malaysia melalui Wakil Menteri Pariwisata Dato A Ghafar Thambi kepada Kepala Badan Pariwisata Daerah (Baparda) Provinsi DI Yogyakarta Tazbir.

Terpilihnya DI Yogyakarta sebagai ”Destinasi Wisata Terbaik Luar Negeri 2008” didasarkan pada jejak pendapat pembaca (polling) majalah pariwisata Libur. Dari 160.000 pembaca Libur, 60 persen di antaranya memilih Yogyakarta sebagai tempat tujuan wisata favorit.

Yogyakarta dinilai memiliki banyak atraksi wisata menarik, seperti wisata heritage, aneka pentas seni tradisi dan kontemporer, serta biaya tinggal dan belanja yang relatif murah.

Ketua panitia penganugerahan yang juga editor majalah Libur, Azlie Halim, menyampaikan, jumlah wisatawan yang mengunjungi Yogyakarta juga menjadi pertimbangan utama.

”Sejak dibukanya jalur Kuala Lumpur-Yogyakarta oleh Malaysia Airlines dan Air Asia pada awal 2008, kunjungan wisatawan dari Malaysia meningkat pesat,” ujar Azlie.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Baparda DI Yogyakarta, jumlah wisatawan Malaysia yang berlibur ke Yogyakarta pada tahun 2007 mencapai 3.959 orang. Pada tahun ini hingga September 2008, tercatat 13.115 wisatawan. Ini berarti kunjungan wisatawan dari Malaysia ke Yogyakarta meningkat lebih dari tiga kali lipat.

December 13, 2008

Antara gelandangan dan cinta

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 11:57 am

gelandangan-gaulPagi itu hari sabtu suhu udara terasa menusuk kulit. Bus yang menuju Kyushu University Ito Kampus masih lima belas menit lagi. Daripada kedinginan karena terpaan angin di halte yang terbuka, saya memutuskan untuk sedikit masuk ke lorong di bawah gedung Solaria Stage. Meskipun daerah itu relatif masih terbuka, tapi setidaknya terpaan angin tidak sekuat di halte bus. Sambil berdiri di pinggir lorong, pandangan mata saya tertuju ke arah seorang gelandangan, berjaket merah, bercelana coklat tua lusuh, pakai topi, dan berambut gondrong keputihan menunjukkan umurnya yang sudah tua. Jenggotnya yang berwarna putih dibiarkan tumbuh lebat. Kumisnya yang keputihanpun dibiarkan tumbuh panjang tak terawat. Namun, bukan itu sebenarnya yang membuat pandangan mata saya tak bisa terlepas dari dia.

Sudah jamak bagi kita bahwa gelandangan memiliki kesan kotor, jorok dan tidak mengikuti aturan. Tapi, bapak tua ini sungguh luar biasa. Di pagi yang dingin itu, dengan memegang sapu dan alat penadah sampah dia menyapu sepanjang lorong itu. Mengumpulkan sampah dari ujung lorong yang satu ke ujung yang lain. Tentu saja apa yang dia lakukan ini bukanlah sesuatu yang istimewa seandainya dilakukan oleh petugas kebersihan, yang digaji ratusan ribu yen sebulan. Tetapi, aktivitas itu menjadi luar biasa karena dia yang berstatus tuna wisma (untuk tidak mengatakan gelandangan), dengan predikat negatif yang melekat padanya, melakukan kegiatan positif tanpa bayaran, disadari oleh kesadaran dari dalam dirinya. Sebenarnya saya masih ingin mengamati perilaku bapak ini, ingin mengetahui apa yang akan dilakukan selanjutnya. Tapi kedatangan temanku membuat perhatian saya teralihkan karena akhirnya kami terlibat dalam sebuah obrolan.

Pada hari yang lain, seperti biasa saya harus mengantri bus yang menuju Ito kampus. Antrian pagi itu cukup panjang karena memang biasanya pada jam-jam segitu banyak mahasiswa yang baru berangkat ke kampus. Tiupan angin dingin terasa menusuk kulit wajah dan telinga, membuat penantian bus yang terlambat beberapa menit terasa lama. Dan di sela-sela ramainya lalu lalang orang yang memulai aktivitas pagi, terlihat bapak tua itu sibuk dengan aktivitas sosial paginya. Sangat mudah dikenali memang, karena seperti hari-hari sebelumnya, pakaian yang digunakan ya cuma itu, jaket warna merah, celana warna coklat tua, dan topi. Semuanya terlihat lusuh karena saya yakin pakaian itu tidak pernah dicuci. Dengan gerakan pelan-pelan karena tenaganya yang sudah lemah, dia berusaha menyapu sampah dan guguran daun kering yang rontok karena sisa musim gugur. Sekali lagi, pandangan saya tertuju ke arahnya karena memang tidak ada aktivitas lain selain bengong menunggu bus. Saya heran juga pada diriku sendiri, kenapa setiap kali melihat dia selalu saja perhatian tercurah ke arahnya. Satu keinginan kuat waktu itu, ingin sekali berfoto bersamanya, bersama orang “istimewa” yang tidak mudah ditemukan di tempat lain. Namun keinginan ini urung dilakukan karena ada perasaan gentar dan takut kalau dia menolak. Dan yang pasti karena saya gak bisa ngomongnya.

Beberapa saat gerakannya dari ujung sana terus saya ikuti, bergerak pelan-pelan sampai akhirnya mendekat ke barisan antrian bus. Tanpa memperdulikan orang-orang yang mengantri, dia  mencoba mengambil sampah di sela-sela antrian, satu orang di belakang saya. Dan tanpa terduga, gedubrak…!!! saya kaget luar biasa….., tepat di samping saya dia mengajak bercakap dengan saya! Entah apa yang dia ucapkan, saya cuma senyam-senyum tanpa membalas sepatah katapun karena memang saya tidak tahu apa yang dia ucapkan dan apa yang harus saya katakan. Saya heran luar biasa, kenapa dari sekian banyak orang yang mengantri, saya yang diajak bicara? Dugaan saya, mungkin tanpa saya sadari dia sebenarnya tahu dan merasakan kalau sejak awal saya perhatikan.

Akhirnya, setelah beberapa menit telat, akhirnya bus datang juga. Dan tanpa dikomando, para pengantri ini menyerbu pintu bus dan berebut masuk duluan agar dapat tempat duduk. Maklumlah, perjalanan dari halte Solaria Stage ke Kampus Ito sekitar 40 sampai 50 menit. Jadi lumayan capek kalau harus berdiri. Di dalam bus, saya masih saja memikirkan si Bapak istimewa tadi. Bukan jenis aktivitasnya yang membuat saya kagum, tapi motivasi yang mendorong dia berbuat sesuatu yang baik yang membuat saya kagum.

Mungkin benar kata senior saya dulu yang menceritakan bahwa kemajuan dan keharmonisan Jepang didasari oleh rasa cinta. Rasa cinta yang dimiliki oleh orang Jepang terhadap negaranyalah yang mendorong mereka mampu menghasilkan karya yang luar biasa. Rasa cinta kepada tanah leluhurnya telah membuat orang Jepang mampu menjaga keserasian antara teknologi maju dengan alam dan manusia. Kemajuan industri Jepang dilandasi oleh kecintaan leluhur Jepang untuk membawa negerinya menjadi negara yang dihargai di mata dunia. Kelestarian budaya tradisionalnya terjaga karena rasa cinta yang tumbuh dihati mereka akan tradisi yang ditinggalkan nenek moyangnya. Dan rasa cinta pada tanah airnya membuat orang Jepang mampu menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Ya…rasa cinta memang merupakan sumber motivasi yang sangat luar biasa. Perilaku mulia yang dilakukan oleh bapak tuna wisma tadi tentu didasari oleh kecintaannya pada lingkungannya, pada tanah leluhurnya yang bernama Jepang.

December 10, 2008

Memaknai Idul Adha

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 7:36 pm

memaknai-idul-adhaSeperti tahun-tahun sebelumnya, buat sebagian besar umat islam, Idul Adha yang jatuh pada hari Senin, 8 Desember 2008 lalu mungkin berlalu begitu saja. Mengalir bagaikan angin tanpa meninggalkan bekas. Adalah sebuah ironi menurut saya, sebuah peristiwa besar dalam islam, diperingati dan dirayakan oleh umat islam sebagai sebuah ritual tahunan tanpa meninggalkan makna esensi dari peristiwa itu pada setiap muslim.

Idul Adha yang merupakan salah satu hari besar dalam Islam, diperingati untuk mengabadikan peristiwa paling penting dalam Islam, yaitu pengorbanan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak satu-satunya Ismail yang sangat disayangi sebagai perwujudan kepatuhan dan ketakwaannya untuk memenuhi perintah tuhannya, Alloh SWT. Sebuah peristiwa besar yang mengajarkan kepada umat manusia, khususnya umat islam, untuk sanggup dan ikhlas mengorbankan apapun yang dia miliki, yang dia sayangi dan sesuatu yang paling berharga sekalipun, untuk dipersembahkan kepada Alloh SWT sebagai wujud ketaqwaan dan keimanan kepada Sang Khaliq. Namun, apakah umat islam yang memperingati hari besar ini pada hari Senin kemarin dapat merenungi dan menangkap nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ini, dan terefleksikan dalam kehidupan sehari-hari? Saya yakin, banyak di antara kita yang Insya Alloh mampu mengambil esensi dari peringatan Idul Adha kemarin. Tetapi saya juga yakin banyak diantara kita yang mengikuti serangkaian ritual ibadah ini hanya sebatas rutinitas tahunan. Ikut takbiran di malam hari, sholat Ied di pagi hari, menghadiri penyembelihan, dan makan daging kurban. Atau bahkan tidak ikut itu semua. Begitu seterusnya dari tahun ke tahun tanpa mampu menyerap makna luhur di balik peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Semangat dan spirit pengorbanan yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam perayaan Idul Adha seyogyanya tidak hanya berhenti pada semangat pengorbanan hewan ternak pada hari besar itu. Semangat pengorbanan yang seutuhnya seharusnya dapat tertanam dalam jiwa kita, berupa nilai-nilai pengorbanan yang bermuara pada ketakwaan dan keimanan kepada Alloh SWT yang terealisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya Islam telah banyak mengajarkan kepada kita perilaku mulia yang esensinya adalah pengorbanan. Bersedekah, membelanjakan harta kita untuk berhaji, membayar zakat sebagai contoh, pada esensinya adalah juga berkurban, yaitu memberikan harta kesayangan kita dengan niat semata-mata untuk beribadah kepada Alloh. Di sinilah sebenarnya menurut saya nilai-nilai luhur dari perayaan Idul Adha bermuara. Yaitu tumbuhnya semangat dan kesadaran berkurban dalam konteks yang lebih luas, tidak hanya terbatas dan berhenti pada aktivitas berkurban hewan ternak pada hari raya Idul Adha, tetapi semakin meningkatnya kesadaran kita untuk memberikan apapun kepunyaan kita, baik waktu, tenaga, pikiran, dan harta benda sebagai sarana untuk beribadah kepada Alloh.

Insya Alloh setiap tahun kesadaran berkurban kita selalu diingatkan oleh Alloh. Tapi, kalau tahun ini perayaan Idul Adha yang kita lakukan hanya berlalu begitu saja tanpa mampu menumbuhkan semangat dan kesadaran berkurban kita secara utuh, akankah tahun depan hal ini terulang kembali? Mestinya tidak demikian. Tentu kita berharap dapat merayakan hari raya Idul Adha tahun depan dengan lebih baik dan dapat memaknai peristiwa itu sesuai dengan nilai-nilai luhur yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Dan yang terpenting adalah kita dapat menanamkan nilai-nilai itu dalam diri kita dan merealisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Amin.

December 8, 2008

Ichimang Band

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 3:46 pm

ichimang-bandSeperti layaknya beberapa grup band baru di tanah air yang hanya seumur jagung, Ichimang Band yang dibentuk di Fukuoka pertengahan bulan September yang lalu juga mengalami hal yang sama. Grup band yang dibentuk untuk mengisi salah satu sesi acara pada festival Indonesian Cultural Day (ICD) pada tanggal 29 dan 30 November 2008 di Kyushu National Museum, Fukuoka, Jepang sebagai salah satu dari rangkaian kegiatan peringatan 50 tahun hubungan Indonesia-Jepang ini, bubar beberapa hari setelah melangsungkan pentas, berganti nama menjadi Batik Band.

Nama Ichimang Band merupakan nama yang spesial, nama yang secara spontan diberikan kepada grup band dadakan itu oleh para personilnya. Nama ini mempunyai makna khusus seiring dengan perjalanan pembentukan grup band ini. Ichimang dalam bahasa Jepang berarti 10 ribu. Yah… nama ini diberikan untuk mengenang pembentukan band ini yang didanai 10 ribu yen. Jumlah yang kecil untuk pembentukan sebuah kelompok band karena harus mendanai beberapa peralatan musik dan latihan rutin yang tentu harus menyewa tempat.

Mungkin bisa dibilang kurang tepat untuk menyebut kelompok musik dadakan ini dengan istilah “Band”. Alasan pertama karena lagu-lagu yang dimainkan dan ditampilkan pada acara ICD adalah musik keroncong, dangdut, dan lagu-lagu daerah sehingga cocok dengan tema kegiatan: “Indonesian Culture Day”. Alasan kedua, alat musik yang digunakan cuma gitar, bass, dan keyboard. Tidak ada drum maupun alat musik yang lain selain kencrengan. Tapi kurang tepat juga bila kelompok musik ini diberi nama orkes melayu (OM) karena tidak ada alat musik kendang, begitu pula kurang tepat kalau diberi nama orkes keroncong (OK) karena tidak memainkan musik keroncong standar. Alhasil, kelompok band dirasa lebih tepat daripada dua pilihan yang lain.

Pentas main musik secara live di acara ICD kemarin merupakan kebanggaan buat Ansar si pembetot Bass yang sudah bertahun-tahun memimpikan pentas mengiringi lagu dangdut, dan bahkan pernah bercita-cita menjadi pemusik sewaktu masih di bangku sekolah beberapa tahun yang lalu. Buat Bayu si vokalis cowok, saya yakin menyanyi di acara itu memiliki kesan tersendiri mengingat dia adalah salah seorang pendatang baru di Fukuoka sejak awal Oktober tahun ini. Buat Fatma si vokalis cewek dan Adi si backing vokal yang memang menyukai seni suara, saya yakin pentas kemarin punya makna spesial juga. Akhirnya hobby mereka nyanyi karaoke tersalurkan juga. Tetapi, saya yakin pentas kemarin bukan merupakan pengalaman spesial buat Pak Harry, yang diam-diam ternyata sudah memiliki segudang pengalaman pentas sebagai musisi keyboard tunggal.

Buat saya pribadi, pentas main musik secara live di ICD kemarin merupakan nostalgia, setelah bertahun-tahun tidak pentas main musik. Beberapa tahun yang lalu, Creative Band yang kami bentuk bersama teman-teman SMA waktu itu merupakan salah satu band yang tampil mengisi acara perpisahan dengan kakak kelas tiga di Gedung Purnabudaya. Yang berbeda, pada acara ICD kemarin saya memainkan gitar, sedangkan pada acara di SMA waktu itu saya main drum. Namun, apapun alat yang dimainkan, kecemasan sebelum tampil serta kenikmatan dan kepuasan selama pentas dan pasca pentas rasanya sama.

Akhirnya karena alasan yang cukup “sensitif” sekarang Ichimang Band tinggal riwayat, berganti nama menjadi Batik Band. Kenapa Batik Band? Yang jelas tidak ada latar belakang historis yang kuat untuk pemberian nama ini. Alasan sederhananya karena waktu tampil kemarin para personil mengenakan baju dan celana batik. Lalu apakah nanti kalau grup ini tampil lagi harus tetap menyertakan atribut batik? Atau akankah grup ini berganti nama ketika nanti para personilnya tampil mengenakan celana jeans dan kaos oblong? Aaah boro-boro mau tampil, mimpi kaliiiii…… Bisa bertahan menjadi grup band yang bisa kompak saja belum tentu bisa karena kesibukan masing-masing personil dengan berbagai deadline riset, paper, arubaito, jalan-jalan…..dll.. dll….

Berikut cuplikan pementasan Ichimang Band:

Blog at WordPress.com.