Purnama`s virtual notes

December 13, 2008

Antara gelandangan dan cinta

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 11:57 am

gelandangan-gaulPagi itu hari sabtu suhu udara terasa menusuk kulit. Bus yang menuju Kyushu University Ito Kampus masih lima belas menit lagi. Daripada kedinginan karena terpaan angin di halte yang terbuka, saya memutuskan untuk sedikit masuk ke lorong di bawah gedung Solaria Stage. Meskipun daerah itu relatif masih terbuka, tapi setidaknya terpaan angin tidak sekuat di halte bus. Sambil berdiri di pinggir lorong, pandangan mata saya tertuju ke arah seorang gelandangan, berjaket merah, bercelana coklat tua lusuh, pakai topi, dan berambut gondrong keputihan menunjukkan umurnya yang sudah tua. Jenggotnya yang berwarna putih dibiarkan tumbuh lebat. Kumisnya yang keputihanpun dibiarkan tumbuh panjang tak terawat. Namun, bukan itu sebenarnya yang membuat pandangan mata saya tak bisa terlepas dari dia.

Sudah jamak bagi kita bahwa gelandangan memiliki kesan kotor, jorok dan tidak mengikuti aturan. Tapi, bapak tua ini sungguh luar biasa. Di pagi yang dingin itu, dengan memegang sapu dan alat penadah sampah dia menyapu sepanjang lorong itu. Mengumpulkan sampah dari ujung lorong yang satu ke ujung yang lain. Tentu saja apa yang dia lakukan ini bukanlah sesuatu yang istimewa seandainya dilakukan oleh petugas kebersihan, yang digaji ratusan ribu yen sebulan. Tetapi, aktivitas itu menjadi luar biasa karena dia yang berstatus tuna wisma (untuk tidak mengatakan gelandangan), dengan predikat negatif yang melekat padanya, melakukan kegiatan positif tanpa bayaran, disadari oleh kesadaran dari dalam dirinya. Sebenarnya saya masih ingin mengamati perilaku bapak ini, ingin mengetahui apa yang akan dilakukan selanjutnya. Tapi kedatangan temanku membuat perhatian saya teralihkan karena akhirnya kami terlibat dalam sebuah obrolan.

Pada hari yang lain, seperti biasa saya harus mengantri bus yang menuju Ito kampus. Antrian pagi itu cukup panjang karena memang biasanya pada jam-jam segitu banyak mahasiswa yang baru berangkat ke kampus. Tiupan angin dingin terasa menusuk kulit wajah dan telinga, membuat penantian bus yang terlambat beberapa menit terasa lama. Dan di sela-sela ramainya lalu lalang orang yang memulai aktivitas pagi, terlihat bapak tua itu sibuk dengan aktivitas sosial paginya. Sangat mudah dikenali memang, karena seperti hari-hari sebelumnya, pakaian yang digunakan ya cuma itu, jaket warna merah, celana warna coklat tua, dan topi. Semuanya terlihat lusuh karena saya yakin pakaian itu tidak pernah dicuci. Dengan gerakan pelan-pelan karena tenaganya yang sudah lemah, dia berusaha menyapu sampah dan guguran daun kering yang rontok karena sisa musim gugur. Sekali lagi, pandangan saya tertuju ke arahnya karena memang tidak ada aktivitas lain selain bengong menunggu bus. Saya heran juga pada diriku sendiri, kenapa setiap kali melihat dia selalu saja perhatian tercurah ke arahnya. Satu keinginan kuat waktu itu, ingin sekali berfoto bersamanya, bersama orang “istimewa” yang tidak mudah ditemukan di tempat lain. Namun keinginan ini urung dilakukan karena ada perasaan gentar dan takut kalau dia menolak. Dan yang pasti karena saya gak bisa ngomongnya.

Beberapa saat gerakannya dari ujung sana terus saya ikuti, bergerak pelan-pelan sampai akhirnya mendekat ke barisan antrian bus. Tanpa memperdulikan orang-orang yang mengantri, dia  mencoba mengambil sampah di sela-sela antrian, satu orang di belakang saya. Dan tanpa terduga, gedubrak…!!! saya kaget luar biasa….., tepat di samping saya dia mengajak bercakap dengan saya! Entah apa yang dia ucapkan, saya cuma senyam-senyum tanpa membalas sepatah katapun karena memang saya tidak tahu apa yang dia ucapkan dan apa yang harus saya katakan. Saya heran luar biasa, kenapa dari sekian banyak orang yang mengantri, saya yang diajak bicara? Dugaan saya, mungkin tanpa saya sadari dia sebenarnya tahu dan merasakan kalau sejak awal saya perhatikan.

Akhirnya, setelah beberapa menit telat, akhirnya bus datang juga. Dan tanpa dikomando, para pengantri ini menyerbu pintu bus dan berebut masuk duluan agar dapat tempat duduk. Maklumlah, perjalanan dari halte Solaria Stage ke Kampus Ito sekitar 40 sampai 50 menit. Jadi lumayan capek kalau harus berdiri. Di dalam bus, saya masih saja memikirkan si Bapak istimewa tadi. Bukan jenis aktivitasnya yang membuat saya kagum, tapi motivasi yang mendorong dia berbuat sesuatu yang baik yang membuat saya kagum.

Mungkin benar kata senior saya dulu yang menceritakan bahwa kemajuan dan keharmonisan Jepang didasari oleh rasa cinta. Rasa cinta yang dimiliki oleh orang Jepang terhadap negaranyalah yang mendorong mereka mampu menghasilkan karya yang luar biasa. Rasa cinta kepada tanah leluhurnya telah membuat orang Jepang mampu menjaga keserasian antara teknologi maju dengan alam dan manusia. Kemajuan industri Jepang dilandasi oleh kecintaan leluhur Jepang untuk membawa negerinya menjadi negara yang dihargai di mata dunia. Kelestarian budaya tradisionalnya terjaga karena rasa cinta yang tumbuh dihati mereka akan tradisi yang ditinggalkan nenek moyangnya. Dan rasa cinta pada tanah airnya membuat orang Jepang mampu menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Ya…rasa cinta memang merupakan sumber motivasi yang sangat luar biasa. Perilaku mulia yang dilakukan oleh bapak tuna wisma tadi tentu didasari oleh kecintaannya pada lingkungannya, pada tanah leluhurnya yang bernama Jepang.

3 Comments »

  1. mungkin bapaknya itu ngomongin gini kali pak,
    “lu ngapain dari kemaren kok ngliatin gw terus… pengen foto sama gw? yok kapan2 lu foto sama gw”

    nice though pak…

    Comment by yan9n — December 15, 2008 @ 8:21 am | Reply

  2. Nice story…
    Good on you, mate…Hehhehe…

    Comment by Evi — December 24, 2008 @ 10:22 pm | Reply

    • Aku tunggu tulisanmu loh…

      Comment by purnamabs — December 30, 2008 @ 5:44 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: