Purnama`s virtual notes

December 22, 2008

Antara hari ibu dan film “Changeling”

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 5:26 pm

changelingChristine Collins (diperankan oleh Angelina Jollie) adalah seorang single parent atas sorang anak laki-laki berusia 9 tahun bernama Walter Collins, tinggal di Los Ageles, USA. Meskipun menjadi seorang single parent, kedua ibu dan anak ini terlihat bahagia menjalani hari-hari mereka. Christine adalah seorang supervisor pada sebuah perusahaan telekomunkasi yang sedang berkembang pesat, sementara Walter adalah murid sekolah dasar.

Sudah menjadi kebiasaan bagi Walter ditinggal seorang diri di rumah oleh ibunya bekerja. Kebiasaan ini sudah berjalan beberapa waktu, dan tidak pernah ada masalah dengan pola aktivitas seperti ini. Dan hari itu, Maret 1928, seperti biasa karena libur sekolah Walter ditinggal di rumah oleh ibunya yang harus masuk shift kerja. Namun betapa paniknya Christine sore itu ketika sesampai di rumah tidak dijumpai anak semata wayangnya. Bayangan kebahagiaan bertemu dengan anaknya sepulang dari kerja yang melelahkan, telah berubah menjadi kepanikan dan bayang-bayang tragedi. Berbagai usaha telah dia lakukan untuk menemukan Walter. Namun usaha ini sia-sia belaka hingga akhirnya dia menyerah dan dengan berlinang air mata melaporkan kasus ini kepada polisi. Kepolisian Los Angeles yang pada era itu dikenal tidak adil dan korup menanggapi laporan Christine dengan datar dan arogan.

Beberapa bulan berlalu dan tidak ada informasi mengenai keberadaan Walter. Hingga akhirnya pada bulan Agustus 1928, polisi menelpon bahwa mereka telah menemukan Walter. Betapa gembiranya Christine mendengar berita itu. Berita inipun segera tersebar di seluruh kota. Penyambuatn kedatangan Walter sudah dipersiapkan, dihadiri oleh para wartawan. Dan setelah ditunggu beberapa saat, keretapun datang. Dengan bergegas dan tak sabar Christine menghampiri kereta yang masih berjalan pelan. Setelah kereta berhenti, dari dalam kerata keluar seorang anak laki-laki didampingi oleh petugas polisi perempuan. Namun wajah Christine berubah seketika, karena ternyata anak laki-laki itu bukanlah Walter anaknya. Namun anehnya anak kecil itu mengaku bahwa dia adalah Walter dan Christine adalah ibunya. Dalam kondisi seperti ini, Christien diancam dan dipaksa oleh polisi untuk mengakui bahwa anak itu adalah Walter.

Seminggu sudah Christine dipaksa untuk mengakui anak lelaki yang bukan anaknya sendiri. Beberapa kali dia berusaha membantah itu, tapi polisi tetap bersikukuh bahwa anak itu adalah Walter. Berbagai carapun dilakukan oleh polisi agar Christine mengakui bahwa anak itu adalah anaknya, yaitu dengan tuduhan mengalami gangguan mental dan membahayakan masyarakat. Sehingga ujungnya dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Di sinipun intimidasi terus dilakukan, dengan berbagai penyiksaan. Salah satu syarat agar dia dinyatakan sehat dan keluar dari rumah sakit jiwa adalah apabila dia mau menandatangi pernyataan bahwa anak kecil yang telah ditemukan polisi adalah Walter, anaknya. Namun Christine tetap saja menolak menandatangai surat itu. Alasannya sederhana. Kalau dia menandatangi surat itu, berarti anak kecil itu ditetapkan sebagai Walter. Konsekuensinya pihak polisi tidak akan melanjutkan proses pencarian Walter yang hilang.

Seiring dengan berjalannya waktu lambat laun tragedi hilangnya Walter mulai menunjukkan titik terang dengan ditemukannya tersangka pembunuh anak-anak. Dia didakwa telah membunuh sekitar dua puluh anak-anak. Namun sampai dua tahun kemudian, dengan meninggalnya si penjagal anak-anak di tiang gantungan, informasi apakah Walter adalah salah satu dari korban pembunuhan tetaplah tidak jelas.

Siang itu, lima tahun sejak menghilangnya Walter dari pelukan Christine, Christine mendapat mendapat telpon yang mengabarkan bahwa polisi telah menemukan seorang anak laki-laki yang berhasil lolos dari penyekapan pembunuh anak beberapa tahun yang lalu. Dengan antusias Christine mendatangi kantor polisi, dan mendengarkan proses interogasi polisi terhadap anak itu. Dari interogasi itu terbukti bahwa anak itu adalah salah seorang yang berhasil lolos dari pembunuhan, tetapi dia bukanlah Walter anaknya.

Christine, mantan seorang seorang single parent tetap tegar menghadapi kenyataan bahwa nasib anaknya belum diketahui. Sebagai seorang ibu, dia tetap punya semangat untuk terus mencari Walter dan masih terus berharap bahwa Walter masih hidup di suatu tempat dan suatu hari mereka akan dipertemukan kembali.
——
Film yang diangkat dari kisah nyata ini, meskipun tidak pas sekali, dapat menggambarkan beratnya seorang single parent dalam membesarkan buah hatinya, dengan berbagai tantangan dan cobaan yang harus dihadapi. Perjuangan, tanggung jawab, cinta kasih, dan perhatian yang dicurahkan seorang ibu kepada anaknya sungguh tidak ternilai. Tidak ada cinta kasih yang murni selain cinta seorang ibu kepada anaknya.

Selamat hari ibu untuk ibuku. Selamat hari ibu untuk istriku, ibu anak-anakku yang saat ini sedang menjadi single parent.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: