Purnama`s virtual notes

January 9, 2009

Universitas Gadjah Mada di tahun 1950-an

Filed under: Uncategorized — purnamabs @ 4:37 pm

ugm-di-keraton21Dalam lingkup nasional, UGM dipandang sebagai salah satu universitas terbaik di Indonesia. Pada akhir tahun 2006, UGM ditempatkan oleh THES (Times Higher Education Supplement) sebagai universitas berkelas dunia dalam tiga kategori sekaligus, yakni Ilmu-ilmu Sosial (peringkat 47), Budaya dan Humaniora (peringkat 70) dan Biomedik (peringkat 73). Prestasi UGM pada saat ini tidak terlepas dari perjuangan para pendiri dan pembangunnya di awal tahun 1950-an.

Menengok masa lalu, UGM di tahun-tahun awal berdirinya belum memiliki gedung sendiri. Kegiatan pembelajaran dilakukan di tempat yang terpisah-pisah di seputar lingkungan keraton Yogyakarta. Fasilitas kuliah dan praktikum masih sangat terbatas. Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi dan Farmasi, Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan berada di Ngasem. Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial dan Politik bertempat di Pagelaran. Fakultas Sastra, Pedagogik dan Filsafat berada di Wijilan. Bahkan pada tahun 1953 Fakultas Tehnik UGM untuk kegiatan kuliah masih meminjam ruangan Sekolah Tehnik Menengah (STM) Jetis. Pada tahun itu Fakultas Tehnik menerima 337 mahasiswa baru. Pada saat perkuliahan, ruangan tidak dapat memuat mahasiswa sebanyak itu sehingga sebagian mahasiswa harus berdiri di luar ruangan, di depan jendela, untuk bisa mengikuti kuliah.

Di Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi dan Farmasi (ini nama satu fakultas, karena pada tahun 1953 Kedokteran Gigi dan Farmasi belum berdiri sebagai fakultas tersendiri), kegiatan perkuliahan lebih sulit lagi karena untuk kuliah ilmu kimia, fisika dan ilmu tumbuhan pesertanya tidak saja mahasiswa Fakultas Kedokteran tetapi juga Fakultas Pertanian dan Kehutanan serta Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan dengan jumlah mahasiswa 624 orang. Meskipun kuliah dilangsungkan di pendopo yang luas, mahasiswa harus berdesak-desakan untuk mendapatkan tempat. Untuk bisa mendengar suara dosen, mahasiswa tertolong dengan mikropon, tetapi mahasiswa yang duduk di bagian belakang mengalami kesulitan untuk bisa melihat tulisan dosen di papan tulis. Dengan kondisi perkuliahan seperti di atas, mahasiswa-mahasiswa yang ingin memperoleh tempat duduk di bagian depan harus datang pagi-pagi sekali. Bahkan ada mahasiswa yang datang sebelum pukul 06.00, padahal kuliah baru dimulai pukul 08.00.

Pada saat praktikum, mahasiswa yang jumlahnya 624 orang harus diatur dengan giliran 10 kali praktikum per hari, sehingga praktikum terakhir dalam satu hari bisa sampai pukul 23.00 malam. Problem yang dihadapi bukan hanya kekurangan ruang praktikum, tetapi juga alat-alat praktikum. Sebagian besar alat praktikum masih harus didatangkan dari luar negeri, dan proses pembeliannya sering memerlukan waktu lama. Selain itu masih ada problem tentang perlunya pengembangan rumah sakit pendidikan sehubungan dengan perkembangan Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi dan Farmasi (Laporan Tahunan UGM 1952/1953).

Fakultas terbesar pada tahun 1953/1954 adalah Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial dan Politik (ini nama satu fakultas, sering disingkat dengan nama Fakultas HESP) dengan jumlah mahasiswa 3191, dengan rincian: Bagian Hukum 1572 mahasiswa, Bagian Ekonomi 614 mahasiswa, dan Sosial Politik 1005 mahasiswa. Dapat dibayangkan betapa rumitnya mengelola fakultas ini karena jumlah dosen yang tidak memadai. Sebagai gambaran, pada tahun 1952/1953 jumlah mahasiswa yang menempuh ujian 760 orang, sedangkan jumlah dosen hanya 19 orang. Pada saat itu UGM sangat gencar mencari tenaga dosen. Dalam salah satu usahanya juga menjalin hubungan dengan Bung Hatta (Wakil Presiden RI pada saat itu) dan beliau sangat peduli pada UGM, dengan mengirimkan buku-buku pelajaran ke Fakultas HESP, serta menyanggupkan diri untuk memberi kuliah pada fakultas itu (Laporan Tahunan UGM 1953/1954).

Para mahasiswa yang mengikuti kuliah di Pagelaran tidak merasa nyaman karena masing-masing ruang hanya dipisahkan oleh dinding yang sederhana, sehingga suara di ruang yang satu terdengar di ruang yang lain. Ada pula ruang kuliah yang terletak di sebelah kandang ayam dan seringkali sebelum kuliah dimulai para mahasiswa harus membersihkan kotoran ayam yang terdapat di meja, kursi dan lantai. Tempat kuliah dan praktikum yang terpencar jauh menambah kesulitan bagi mahasiswa karena sebagian besar mahasiswa harus berjalan kaki atau naik sepeda. Hanya beberapa gelintir mahasiswa yang mempunyai kendaraan bermotor. Belum ada angkutan umum yang menghubungkan beberapa kampus yang terpisah. Meskipun demikian, sejarah mencatat adanya kegairahan dan semangat belajar yang tinggi dari para mahasiswa. UGM berterimakasih dan memberikan penghargaan yang tinggi kepada Sultan Hamengkubuwono IX yang jasanya begitu besar dalam membantu UGM sejak awal berdirinya (Dari Revolusi ke Reformasi, 1999).

Kondisi UGM pada awal tahun 1950-an sangat jauh berbeda dengan saat ini, dimana fakultas-fakultas telah mempunyai gedung sendiri, ruang-ruang kuliah ber-AC, fasilitas pembelajaran cukup dan memadai. Memperhatikan kilas balik UGM di tahun 1950-an yang penuh keprihatinan dan kesederhanaan, menunjukkan bahwa kecemerlangan UGM pada saat ini adalah hasil perjuangan yang luar biasa.

Sumber: Arsip UGM/Newsletter Edisi Mei 2008

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: